Menjelang tengah hari, Senin (14/4/2008) Didin sedang memperbaiki vespa bersama ayahnya Warman S (60). Vespa ini belum lama dibeli oleh ibunya Wulan (50), yang menganggap kondisi kejiwaannya anaknya sudah lebih baik .
Didin memiliki kelainan sejak mengalami kecelakaan tahun 2000. Kondisinya baru mendapat penanganan medis di RSHS tahun 2006, dan dinyatakan mengalami obsessive compulsive. Setelah sempat lebih baik, Didin kembali dirawat 15 hari pada November 2007.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Warman yang merupakan pensiunan dinas pendidikan dan Wulan yang membuka usaha warung kecil di rumahnya, tak sanggup membiayai pengobatan lanjutan Didin. Anjuran dokter pun terpaksa diabaikan.
Sempat menjadi aktivis di masa mudanya, Didin masih punya perhatian pada dunia politik. Di pilkada pun, pria yang pernah mendirikan LSM Bina Cinta Bangsa punya jagoan. Namun sayang pilihannya terlihat tidak menang.
Ini menjadi tekanan besar bagi Didin. Apalagi empat bulan sebelumnya, istrinya Yuni (20) baru melahirkan anak pertama mereka. Seharusnya ini menjadi kebahagiaan, tetapi tidak demikian penerimaan Didin.
Kembali ke hari Didin melakukan aksi nekatnya. Pekerjaan Didin dan Warman belum selesai saat tengah hari. Vespa sudah dicat biru tua, tetapi masih cat kasar. Tutup mesin dan ban cadangan pun masih dilepas. Demikian juga nomor polisinya.
Didin ingin memasang onderdil baru di vespanya. Ia kemudian meminta uang 50 ribu rupiah dari istrinya, dan langsung berangkat dengan vespanya yang belum terpasang sempurna.
Di perjalanan Didin mendapat ejekan, yang memicu emosinya. Kekecewaannya setidaknya ada dua, merasa tidak nyaman di rumah dan karena jagoannya di pilkada kalah. Saat melintas kantor DPD PKS Kabupaten Bandung, ia pun mengurungkan niat membeli onderdil dan justru membeli empat botol bensin yang biasa dijual di pinggir jalan.
Bensin-bensin tersebut dibungkus dengan karung terigu. Setibanya di depan kantor PKS, didin melempar satu per satu botol bensin ke depan pintu kantor PKS yang sedang terparkir beberapa motor. Lalu Didin menyulut karung terigunya, dan menyusul melemparnya ke arah tumpahan bensin. Api pun menyala dan merusak tiga sepeda motor.
Didin segera ingin melarikan diri. Tetapi motornya yang belum diselesai diperbaiki tidak mau menyala. Dengan mudah para pedagang di depan kantor PKS menangkapnya dan menyerahkan ke aktivis PKS yang berada di dalam kantornya untuk mengamankan Didin.
Melihat motornya yang tidak lengkap, serta cat yang kasar wajar jika ada anggapan Didin sudah merencanakannya. Apalagi saat ditanya, jawaban yang diberikan Didin tidak jelas maksudnya, beberapa orang pun menganggap Didin sebagai profesional.
Di tangan polisi, tak banyak informasi yang diperoleh. Bagaimana bisa, bertanya sama yang depresi. Dalam kondisi semakin ditekan, Didin hanya melongo dan membuat polisi yang menginterogasi silih berganti hampir 12 jam tidak mendapatkan petunjuk jelas kecuali identitasnya.
Malam harinya petunjuk pun mulai diperoleh polisi, setelah didatangi Wawan yang mendapat informasi dari wartawan. Niat hati menjenguk putranya tidak kesampaian karena Didin masih terus diperiksa, Wawan pun ikut di-BAP. Bermodalkan surat keterangan dari RSHS dua tahun lalu, polisi mulai mendapat titik terang. Tujuh saksi sudah diperiksa, termasuk saksi ahli dan saksi di TKP saat kejadian.
Setelah 24 jam pascakejadian, Polisi pun punya kesimpulan. Aksi Didin murni kriminal sendiri dan diancam dengan pasal 187 mengenai pembakaran. Namun demikian, kantor-kantor partai sempat tegang, apalagi tim sukses tiga cagub-cawagub. Tapi apa hendak dikata, Didin tak mampu menimbang apa yang seharusnya dilakukan. Yang jelas, proses hukum tetap dilanjutkan. (lom/lom)











































