Didin juga pernah membuat satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan nama Bina Cinta Bangsa. "Dulu pernah buat LSM. namanya Bina Cinta Bangsa, tapi sudah lama sekali tidak ada lagi karena sudah tidak terurus. Dia kan sakit jadi saya larang untuk main politik-politik seperti itu. Saya mah tidak tau. Sudah di rumah saja," tutur ibu Didin Tajudin, Wulan (50 tahun) saat ditemui oleh detikbandung di rumahnya, Senin (14/4/2008) malam.
Wulan juga mengakui semenjak Didin sakit, aktifitas berorganisasi dan politik Didin berhenti. Didin lebih banyak menghabiskan waktunya menganggur di rumah. "Dia tidak kemana-mana. Dan teman-temannya juga tidak ada yang datang ke sini. Pokoknya semua kegiatan yang berkaitan dengan berorganisasi dan politik sudah saya suruh berhenti. Sudah lima tahunan lah," lanjut Wulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Didin yang memiliki empat saudara, semuanya mengenyam pendidikan sampai ke tingkat universitas. Hanya Didin yang tidak sampai tuntas. "Dia dulu kuliah dan mengambil jurusan administrsi negara. Tapi karena terbentur biaya, kita sudah tidak kuat buat membiayai dia kuliah akhirnya tidak sampai beres," kata Wulan.
Bahkan sebelumnya Didin sempat pesantren di salah satu pondok pesantren di daerah Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. "Waktu SMP di pesantren tapi karena tidak kuat akhirnya dipindah saat SMA ke rumah kakeknya di Gunung Batu," tambah Wulan.
Kini Didin masih diperiksa di Polres Soreang. Ia menjadi tersangka perusakan kantor DPD PKS Kabupaten Bandung. (afz/lom)











































