Ekspresi bingung terlukis pada wajah ibu Didin Tajudin, Wulan (53 tahun). Penampilanya yang sederhana tidak bisa menutupi keterkejutannya saat detikbandung menanyakan alamat yang dituju, Senin (14/4/2008) malam. "Cari siapa yah?" katanya penuh tanda tanya.
Setelah dijelaskan tentang maksud kedatangan menyambangi rumahnya di RT 4 RW 7, Kampung Cinangka, desa Warga Luyu, Kecamatan Arjasari, dia langsung menghela nafasnya.
"Pantesan dari tadi kok tidak pulang-pulang. Saya khawatir kalau terjadi apa-apa dengan dirinya. Saya kira dia kecelakaan. Karena dia sering kecelakaan. Sudah dua kali dia tabrakan dan kakinya patah. Tapi Didin tidak apa-apa kan?" tanya Wulan lagi.
Dirinya mengaku was-was dengan keadaan anak pertamanya itu. "Iya dari tadi lho. Padahal dia lagi sakit. Duh gimana yah,"katanya sambil menutupi kepanikannya.
Setelah agak tenang Wulan yang keseharianya berjualan di warung sebelah rumahnya itu kemudian mempertegas bahwa tidak mungkin Didin, anak pertama dari 5 bersaudara itu melakukan pengrusakan kantor DPD PKS Kabupaten Bandung dengan cara melempar bom molotov. "Tidak mungkin itu. Orang tadi juga ada di sini dari pukul 12.00 WIB, lagi mengecat motor," kata Wulan yang saat itu mengaku sedang tidak enak badan.
Hingga Senin malam pukul 20.00 WIB, keluarga masih belum mendapat informasi dari pihak kepolisian. Bapak tersangka Warman S (60 tahun) pun berniat mendatangi Polres Soreang tempat Didin diperiksa. (afz/lom)











































