Sartini ditemukan oleh suaminya, Bambang (50) pada pkl 07.30 WIB, Rabu (9/4/2008) di sumur di depan rumah kontrakannya. Ketika menimba air di sumur Bambang menemukan beberapa helai rambut di dalam sumur dengan kedalaman lebih dari 10 meter dan diameter 1,5 meter.
Saat ditemukan jenazah Sartini sudah pucat kaku. di bagian hidungnya terlihat ada bekas darah. Saat itu Sartini mengenakan daster kuning corak kembang-kembang. Pengangkutan jenazah Sartini dari dalam sumur dibantu oleh petugas pemadam kebakaran.
Bambang yang profesi sehari-harinya sebagai tukang bubur keliling menuturka pada Selasa (8/4/2008) pukul 04.30 WIB, sekembalinya dia dari pasar dia tidak menemukan keberadaan Sartini di rumahnya.
Dia hanya menemukan kedua anaknya yaitu Untung (22) dan Dwimuji (11) yang sedang tertidur. Bambang mengaku kaget istrinya tidak ada di rumah. Dia pun mencari informasi kepada tetangga namun Sartini tetap tidak ditemukan.
Bambang mengungkapkan, sedari pagi hingga malam hari dirinya mencari Sartini ke beberapa tempat seperti terminal Cicaheum, Cicadas juga ke teman kerja Sartini. Sartini bekerja di PT Garantex kawasan Cikadut.
Sebelum kejadian, Bambang dan tetangga sekitar tidak mendengar hal-hal yang mencurigakan, seperti suara air atau suara orang jatuh.
Menurut salah seorang anaknya, Untung, Senin malam (7/4/2008), ibunya becakap-cakap dengan dirinya dan mengatakan "Nak jangan kaget kalau mama pergi," ucap Untung. Lalu untung menjawab "Jangan bilang gitu, apapun yang terjadi hanya Tuhan yang tahu," ucap Untung menjelaskan percakapan dengan ibunya. Diungkapkan Untung, Sartini sendiri sempat meminta maaf kepada dirinya.
Menurut Kanirtreskrim Polsek Kiaracondong, Iptu Tri Suhartanto peristiwa meninggalnya Sartini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. "Kita belum bisa memastikan apa yang terjadi," ungkapnya.
Rencananya, pemakaman Sartini masih menunggu rapat keluarga, apakah jenazah akan dikebumikan di Bandung atau tanah kelahirannya di daerah Banyumas. (ema/ern)











































