Ibunda Rofli, Elis Endah (34), menuturkan ketika Rofli di dalam kandungan, dia ditinggalakan suaminya. Saat itu, Elis terus mengingat suaminya hingga mengalami stress. Pada usia kandungan Rofli 7 bulan dia mengalami pendarahan. Selama tiga hari berturut-turut kandungannya tidak bergerak. Walaupun akhirnya Rofli bisa dilahirkan secara normal, saat usia kandungan 9 bulan. Proses kelahiran Rofli pun dibantu oleh bidan tradisional (paraji-red).
Saat Rofli usia 9 bulan, lanjut Elis, anaknya mengalami demam tinggi hingga mengalami kejang-kejang. Hingga kini keadaan Rofli begitu memprihatinkan. Rofli tidak bisa melihat, tidak bisa duduk, kondisi tubuhnya lemas dan layu. Ketika badan Rofli makin tumbuh besar, ibunya tidak lagi sanggup menggendong Rofli. "Saya gunakan dorongan bayi," ungkap Elis yang saat ditemui detikbandung sedang memangku anaknya tersebut, Kamis (27/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Elis mengharapkan, untuk pengobatan Rofli ada bantuan dari pemerintah. Sampai saat ini, bantuan yang datang atas inisiatif dari Titin Supartini, relawan dari Lembaga Advokasi Kesehatan Masyarakat Kota Bandung. Titin pun sekedar membantu menguruskan proses pengobatannya. Pekerjaan Elis sekarang hanya sekedar membantu orang tuanya di warung.
(ema/ern)











































