Salah seorang tukang ojeg, Asep yang biasa mangkal di alun-alun Majalaya mengaku kehilangan konsumen sejak banjir menerjang empat hari yang lalu. Menurut Ate biasanya sehari ada lima sampai enam penumpang.
"Tapi sejak banjir, cuma mendapat 1-2 penumpang. Sekali angkut, tarifnya Rp 5 ribu," tutur Asep kepada detikbandung Senin malam (17/3/2008).
Asep mengaku, dirinya terhambat di Jl Hanja karena tidak berani melintas menuju pangkalan ojeg di alun-alun. Ketinggian air di tempat ini setinggi betis. "Saya nggak berani melintas, takut motor rusak dan mogok. Padahal pendapatan belum seberapa," ujar Asep.
Hal senada diungkapkan Ate Suhara (42). Situasi banjir ini membuatnya sarat penumpang. Oleh karenanya dia berusaha mendulang rupiah disamping mengojeg. Dia berprofesi menjadi tukang ojeg sekaligus tukang derek. Ate menawarkan jasa menggerek motor-motor yang mogok dengan mengunakan tambang. Sekali derek, dia memasok harga tergantung jauh dekatnya lokasi.
"Jika masih daerah Majalaya sekitar Rp 10 ribu," jelas Ate.
(ema/twi)











































