"Ciri khasnya pakai peci putih yang biasa dikenakan pak haji dan pakaian compang camping. Dia suka ngoceh, sambil berjalan," ujar Sudarsono Katam, penulis buku Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis sebuah Wisata Sejarah, saat ditemui detikbandung, Selasa (4/3/2008).
Pria paruh baya itu, selalu mempertontonkan telapak tangan yang di satukan satu sama lain, dengan ibu jari digerak-gerakan. "Sambil mengoceh wek dut wek dut, makanya disebut haji wek dut," ujar Katam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(ern/ern)











































