Dalam bukunya Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis sebuah Wisata Sejarah, Sudarsono Katam, menuturkannya. Menurut Katam, saat usianya berusia 12 tahun, sekitar tahun 1950-1960, ada tiga orang gila yang terkenal di Bandung. Dua orang laki-laki, satu perempuan.
"Orang gila yang paling humanis adalah Nurni. Mungkin saat itu usianya kepala 3," ujarnya kepada detikabandung di kediamannya, Jl Tanjung No 1, Selasa (4/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nurni berperawakan pendek, putih dan cantik. Rambutnya keriting sebahu. Dia selalu berpakaian mencolok. Terkadang baju merah dipadankan dengan celana hijau. Ciri khas lainnya, Nurni selalu pakai kaos kaki hingga sebetis.
"Nurni suka jalan hingga ke pelosok-pelosok kota Bandung. Namun setiap jam 6 sore, dia selalu berjalan ke arah Jalan Sukabumi. Di jalan itu ada bengkel tua yang menjadi tempat istirahatnya," ujarnya.
Setiap kali berpapasan dengan laki-laki yang menurutnya ganteng, Nurni selalu mengikuti laki-laki tersebut. "Lalu dia menjawil laki-laki itu sambil mengeluarkan rengekan centil lalu bilang 'pak mayor, pak mayor'. Selalu seperti itu," ujar Katam.
Menurut kabar, Nurni dahulunya adalah istri seorang tentara berpangkat sersan mayor. Namun entah kenapa suaminya meninggalkannya. Kemudian Nurni stres dan akhirnya gila.
"Nurni ini engga agresif, sering ngomong sendirian. Tapi kalau diganggu anak2, suka ngamuk melempari batu," tutur Katam.
Namun pada tahun 1960 an, Nurni tidak pernah terlihat lagi. Tersiar kabar, dia diperkosa hingga hamil. Nurni melahirkan sendiri anaknya di bangunan bengkel tua di Jalan Sukabumi. Namun karena kondisinya tidak stabil, dia akhirnya meninggal.
Sementara anaknya sendiri, tidak meninggal. Namun hingga kini tidak diketahui jejak sang anak. "Ada yang bilang katanya diadopsi, tahu tidak jelas juga. Nasib Nurni memang sangat tragis," lirih Katam.
(ern/lom)