Massa yang memakai ikat kepala hijau bertuliskan "SBSI 1992" berkumpul tepat di depan gerbang Gedung Sate, mulai pukul 10.00 WIB. Namun mereka sama sekali tidak bisa mendekati gerbang. Sebab, tiga lapis barikade polisi menghadangnya tepat di depan gerbang.
Barikade lapis pertama berdiri puluhan Polwan, dan dua lapis di belakangnya polisi laki-laki. Mayoritas buruh yang merupakan laki-laki, akhirnya terlihat menjaga jarak sekitar 1,5 meter dari barikade polwan tersebut. Buruh perempuan pun diminta berada di depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi kemudian membentangkan tambang yang diikatkan ke gerbang. Tambang mengelilingi barikade polisi. Posisi tambang berada di perut. Inilah yang dinamakan 'tali Samapta'. Benteng pertahanan yang baru diperkenalkan kepolisian saat menghadapi aksi demo
Akhirnya massa hanya meneriakkan yel-yel penolakan terhadap sistem kerja kontrak. Mereka pun mengacung-acungkan puluhan spanduk yang antara lain berisi "Buruh bukan sapi perah" dan "Outsourching dan kontrak no". Beberapa perwakilan buruh berdiri di atas mobil bak terbuka warna hitam yang dijadikan tempat orasi.
Korlap aksi Asep Jamaludin, menyatakan sistem kerja kontrak di Indonesia merugikan buruh dan lebih menguntungkan perusahaan. "Kami menolak sistem kerja outsourcing dan sistem kerja kontrak," tandasnya.
Saat ini, lanjutnya, bidang pengawasan Disnakertrans belum berpihak kepada buruh. Mereka tidak pernah menindak pengusaha yang melanggar aturan. "Kami minta Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) agar bisa melindungi kaum buruh," tegasnya.
Hingga pukul 11.15 WIB, massa masih bertahan di depan Gedung Sate. Mereka masih mencoba masuk dan ditahan oleh barikade dan tali Samapta. (ern/ern)











































