Para petani baik laki-laki maupun wanita yang usianya rata-rata di atas 40 tahun itu, menggunakan 6 truk terbuka saat geruduk gedung pemerintahan Jabar, Gedung Sate, pukul 09.30 WIB. Rata-rata mereka mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Tidak sedikit yang menggunakan topi yang biasa dipakai untuk ke sawah.
Mereka membawa beberapa spanduk dari karton yang isinya antara lain "Stop pengrusakan lingkungan oleh limbah industri" dan "Pengusaha untung petani buntung". Dengan semangat, para petani ini berteriak-teriak di luar gerbang yang telah dijaga puluhan polisi. "Tutup pabrik, tutup limbah".
Maman (45) petani dari Desa Jelegong Kecamatan Rancaekek, mengatakan sudah 17 tahun ini 13 desa di Rancaekek rusak akibat limbah pabrik PT Kahatex, pabrik tekstil terbesar di Kabupaten Bandung. Dari 13 desa, yang paling parah adalah lima desa, yaitu Rancaekek Wetan, Linggar, Sukamulya, Jelegong, dan desa Bojongloa.
"Limbah pabrik cair yang menggenangi sawah dan tambak ikan berwarna hitam dan merah. Bau sekali. Hasil panen kami gagal terus. Ikan mati, padi engga jadi, malah ada juga yang kena penyakit kulit," ujar Maman.
Petani lainnya Jajang Muharam, menyatakan selama ini PT Kahatex tidak memaksimalkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sehingga air yang dibuang tidak memenuhi baku mutu.
"Kami menuntut PT Kahatex memberikan ganti rugi terhadap petani. Limbah jangan dibuang ke Sungai Cikijing, pihak perusahaan harus menormalisasi sungai," tuntutnya.
Hingga pukul 10.40 WIB, para petani masih melakukan aksi unjuk rasa. Belum ada satu perwakilan petani pun yang ditemui anggota dewan ataupun dari pihak Pemrov Jabar.
(ern/lom)











































