Acep (nama samaran), calo yang biasa mangkal di Polwitabes Bandung, menuturkan dirinya sudah 5 tahun lebih menjadi calo SIM. Rata-rata per hari dia bisa memperoleh dua konsumen. Bahkan kalau ramai, tiga hingga lima konsumen bisa dia peroleh.
"Tarifnya Rp 150 ribu. Saya paling dapat Rp 20 ribu per konsumen. Karena kan harus ngasih setoran ke beberapa loket," ujarnya kepada detikbandung, Selasa (19/2/2008). Tarif tersebut di luar biaya tes kesehatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kata dia, dalam dua minggu terakhir ini sejak kepemimpinan Kapolda baru Irjen Pol Susno Duadji, dia mengaku kesulitan. "Wah tidak ada peluang. Kalau ketahuan, kami langsung ditangkap," kata dia.
Hal yang sama juga dirasakan Agus, calo di Samsat Bandung Timur, Jalan Soekarno Hatta. Menurutnya kini dirinya sudah tidak lagi beroperasi. Padahal, kata dia, hasil perpanjangan STNK dari setiap konsumen cukup besar.
"Untuk STNK mobil rata-rata Rp 50 ribu. Kalau motor antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Rata-rata per hari saya bisa mendapat empat konsumen," ujar Agus yang mengaku omzetnya rata-rata bisa Rp 200 ribu per hari.
Menurut Agus, konsumen yang menjadi sasaran adalah yang tidak memiliki KTP. Atau konsumen yang tidak mempunyai waktu untuk mengurusnya, meski membawa konsumen. "Wah banyak konsumen yang seperti itu. Makanya untuk perpanjangan STNK, engga susah nyari konsumen," ujarnya.
Namun baik Acep maupun Agus, kini hanya bisa gigit jari. Meski begitu, mereka berdua masih mempunyai harapan jika kondisi ini tidak akan berlangsung lama. "Yah paling lama juga tiga bulan. Nanti pasti kembali lagi," ujar Agus.
(ern/lom)










































