Pengelola Gedung Dezon, Boy Rusli, saat ditemui detikbandung di Gedung Dezon, Jalan Asia Afrika, mengatakan sejak 2006 hingga awal 2007, gedung yang dikelolanya dijadikan tempat konser musik aliran underground. "Awalnya sih hanya komunitas punk, tapi kemudian melebar ke komunitas underground," ujarnya.
Menurutnya selama kurun waktu tersebut, telah digelar lima kali konser musik underground. Bahkan, band Beside yang konser di Gedung AACC, Sabtu pekan lalu (9/2/2008), pernah konser di gedung berkapasitas 2 ribu orang ini.
"Selama pentas disini tidak pernah ada yang berantem atau hingga ada yang tewas. Aman-aman saja," ujarnya.
Namun pada awal 2007, pengelola terpaksa menolak komunitas underground. "Kami banyak mendapatkan keluhan dari pedagang di kawasan ini, kalau mereka suka resah dan was-was ketika komunitas ini konser, karena mereka suka mabuk-mabukan," ujar Boy.
Tidak hanya itu, lanjut Boy, pelarangan gedung dipakai konser pun ditujukan pada semua aliran musik. "Jangankan underground, gedung ini menghindari musik brang breng brong lainnya," tegasnya.
Saat ini, kata Boy, gedung hanya dipergunakan untuk seminar, pameran, dan fashion show. Kalaupun ada musik, hanya sekedar selingan dalam sebuah acara.
Boy mengaku beberapa bulan lalu, sejumlah event organizer yang sering menggelar konser musik underground, pernah melakukan lobi agar gedung Dezon yang mempunyai luas 5 ribu meter persegi ini bisa dipakai kembali. "Tapi kami menolaknya," pungkas Boy.
(ern/lom)











































