"Saat ibu datang ke RS Immanuel, Entis kejang-kejang. Kemudian dibawa ke IGD RSHS. Sejak di Immanuel hingga RSHS, dia tidak sadarkan diri, matanya terus terpejam. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya," tutur Aisyah dengan mata sembab akibat menangis lama di kediamannya di Gang tunggal bakti 5 No 17 Kp Cilember RT 4 RW 6 Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat, Selasa (12/2/2008).
Kondisi Entis, kata Aisyah, sangat memprihatinkan. Terlihat memar di pelipis kiri dan lebam di bagian pinggang. "Gigi depannya pun goyang. Kata dokter ada luka dalam," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aisyah mengaku ada yang berbeda dari sikap anaknya pada Sabtu Sore (9/2/2008). Tidak seperti biasanya, dia meminjam sepatu adiknya, Diki (16). "Saya sempat larang, tapi dia bilang cuma sebentar aja kok bu. Sebelumnya dia tidak pernah pakai sepatu adiknya," ujarnya menirukan ucapan Entis.
Pengakuan yang sama juga dituturkan oleh Paman Entis, Atep (33) dan sahabat Entis sewaktu STM, Acep Abdurrahman (23). Sepengetahuan mereka berdua, Entis tidak terlalu suka musik apalagi aliran underground. "Makanya saya kaget dengar Entis meninggal gara-gara nonton konser. Dia mah engga pernah nonton sebelumnya," ujar Acep yang merupakan teman sekelas dan sebangku selama tiga tahun di STM. (ern/lom)











































