Sebelum akhir tahun 1990an, GOR Saparua memang sempat dijadikan tempat pagelaran acara-acara musik underground. Namun kemudian Koperasi Pegawai Dinas Pendidikan Jabar sebagai pengelola gedung, memutuskan untuk tidak lagi menggelar acara komunitas underground.
Perubahan kebijakan ini, dituturkan oleh Eman yang sudah 37 tahun menjadi pelaksana di GOR Saparua, dilatarbelakangi beberapa sebab. Selain kondisi gedung yang sudah tua, juga perilaku sebagian besar anggota komunitas underground yang tidak tertib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, fasilitas gedung juga banyak yang rusak usai acara. Ketidaktertiban soal waktu pun menjadi masalah lain. "Misal, yang seharusnya jatah sewa hingga jam 7 malam, mereka suka ngambil waktu lebih," tambah Eman.
Pria yang juga berprofesi sebagai pawang hujan itu menuturkan, sebelum era 1990-an, GOR Saparua sering dipakai untuk kegiatan lain. "Tahun 60an dipakai musik rock and roll, dan tidak pernah terjadi apa-apa," kenangnya.
Setelah tidak boleh menggelar kegiatan underground, sekarang gedung yang berdiri di atas tanah seluar 8975 meter persegi itu, lebih sering dipakai untuk badminton. Di luar itu, hanya boleh untuk kegiatan instansi atau pun musik yang bukan dari arus underground. (lom/ern)










































