Hal ini dikemukakan oleh Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik dan Usaha Skala Kecil, Tribangun L. Sony, di sela-sela acara Anti Plastic Bag Campaign, kampus ITB Jl. Ganesha, Sabtu (9/2/2008).
Sony mengemukakan bahwa konsep teknologi PLTSa tidak bermasalah, hanya berkendala di prosedur dan penempatan pembangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Metode PLTSa ini, lanjut Sony, tidak bisa sepenuhnya diandalkan. Menurutnya, harus ada metode-metode lain yang digunakan bersamaan dengan PLTSA. Misalnya dengan 3R, Reduce, Reuse dan Recycle.
"Aplikasi program-program seperti ini memerlukan partisipasi masyarakat dan mitra swasta, kalau berjalan sendiri tidak akan efektif," tambah Sony.
Kondisi masyarakat yang sampai sekarang masih menolak PLTSa, menurut Sony merupakan salah satu bukti belum terpenuhinya AMDAL untuk pembangunan PLTSa ini. Terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi, yakni fisik, biologi dan sosial ekonomi.
"Kriteria sosial ekonomi masih belum terpenuhi, dan hal inilah yang harus ditargetkan oleh pemerintah daerah," tutur Sony.
Sony menambahkan, pemerintah daerah perlu melakukan pendekatan yang lebih riil kepada masyarakat. Menurutnya, penjelasan kepada masyarakat tanpa adanya contoh riil tidak akan efektif.
"Baiknya ada prototype kecil, contoh dari cara kerja PLTSa itu. Jadi masyarakat bisa mengerti dengan jelas, meski mungkin tidak langsung menerima. Tidak perlu terburu-buru lah, pelan-pelan saja," jelasnya. (twi/ema)











































