Nabi Palsu Sayuti Lancar Baca Syahadat

Nabi Palsu Sayuti Lancar Baca Syahadat

Baban Gandapurnama - detikNews
Jumat, 08 Feb 2008 15:34 WIB
Bandung - Meski molor 30 menit dari yang dijadwalkan, akhirnya Ahmad Sayuti (77) yang dalam dua buah bukunya mengklaim sebagai nabi terakhir, akhirnya tobat dengan berikrar kembali dua kalimat syahadat pukul 14.30 WIB di DPW Persis Jabar Jalan Pungkur Gang Muncang No 31.

Sayuti yang ditemani lima putra putrinya datang ke DPW Persis pukul 14.00 WIB lebih. Kemudian bersama perwakilan MUI, aktifis Persis, dan anggota kepolisian dari Polsek Regol dan Polresta Bandung Tengah, menuju masjid Al Ittihad yang masih berada di komplek DPW Persis.

Tidak nampak raut ketakutan di wajah pria paruh baya ini. Dengan lancar dia membaca dua kalimat syahadat. "Saya bertobat dengan sebenar-benarnya tobat kepada Allah. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayuti juga menyatakan mencabut semua pernyataannya selama ini terkait pengakuannya sebagai nabi terakhir. "Saya juga mencabut buku-buku yang diterbitkan dan bagi siapa yang memiliki kedua buku tersebut saya imbau untuk mengembalikan buku itu MUI, Persis, atau polisi," ujarnya lantang.

Sementara itu Sekretaris MUI Jabar yang hadir, Rafani Achyar meminta agar tokoh agama atau dai dan anggota ormas Islam yang dekat rumahnya dengan Sayuti agar melakukan pembinaan kembali. "Pak Sayuti ini jangan dibiarkan. Saya juga mengajak Pak Sayuti untuk belajar menjalani pembinaan dan konsultasi di MUI," paparnya.

Rafani menambahkan berdasarkan hasil rapat Pakem Kejati Jabar, meski mendukung tobat Sayuti, namun proses hukum ini harus terus dilanjutkan. "Ya ini sesat karena ini penodaan agama," tandasnya.

Hal yang sama dikatakan Ketua Persis Jabar Idad Soemarta. Menurutnya persoalan Sayuti harus ditangani secara benar dengan melakukan pengkajian hukum sesuai agama. "Jangan sampai salah tafsir dalam soal agama. Untuk proses hukumnya kami serahkan pada pihak yang berwajib," katanya.

Pada kesempatan itu, Persis juga melakukan pembakaran terhadap 100 buku karangan Ahmad Sayuti sebagai simbol pencabutan buku itu di pasaran. Sayuti menerbitkan dua buah buku yang masing-masing dicetak sebanyak 150 dan 200 eksemplar. Penyebarannya di kalangan terbatas.

(ern/ern)


Berita Terkait