Rupanya, hal tersebut membuat warga sekitar yang menjadi pelanggannya merasa malas untuk datang kembali. Hasilnya, usaha cukur Ahmad Sayuti jadi sepi.
"Dulu, sejak bujangan hingga berkeluarga, setiap dua bulan sekali saya mencukur rambut ke Pa Sayuti. tetapi, karena sering ngobrol soal akidah, saya jadi males datang lagi," ujar Abdullah (38), warga sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada terucap dari Ketua RT.5, Subagyo (47). Dirinya merasa tidak kerasan kalau dicukur di tempat Pak Sayuti. "Ngobrolnya masalah agama dan nyerempet ke persoalan aqidah. Terus terang, saya merasa malas untuk datang lagi," akunya.
Tidak beda dengan yang lainnya, Ketua DKM Al-Ikhlas yang masih satu wilayah dengan rumah Sayuti, Sunarya (80), mengatakan sejak tahun 80-an, Sayuti memang sering berbicara mengenai aqidah. "Tapi warga tidak ada yang menanggapinya, dia tidak ada pengikutnya," ujar dia.
Berdasarkan pantau detikbandung, sejak pagi hingga siang tadi, (6/2/2008), suasana di tempat pencukuran rambut Sayuti tampak lengang. Tak ada satu pun konsumen yang memanfaatkan jasanya.
(bbp/ern)










































