Hal ini disampaikan Sayuti di kediamannya, Jl H. Syamsudin 3, Ciateul, Rabu (6/2/2008). Rumah seluas 6x12 meter tersebut juga menjadi tempat usaha Sayuti yang berprofesi sebagai tukang cukur. Saat detikbandung ke rumahnya, Sayuti yang mengenakan celana hitam dan kaos oblong putih, menyambut baik dan langsung mempersilahkan masuk ke dalam ruang tamunya.
Saat wawancara akan dimulai, telepon rumah terus berdering. Terdengar ada beberapa wartawan yang menelepon dan juga telepon dari salah satu anaknya Sayuti. Pria paruh baya 77 tahun itu mempunyai 10 anak. Kemudian keluar istri Sayuti yang umurnya sekitar 60-an dan meminta agar wawancara dihentikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya belum mengumumkan kepada masyarakat bahwa saya adalah nabi, paling hanya kepada keluarga dan pelanggan yang datang. Itu pun hanya sebatas diskusi tentang agama," ujarnya membuka percakapan.
Menurutnya sejak dirinya menerima wahyu pada tahun 1993, dirinya hanya berdoa dan beribadah sesuai yang diyakininya. "Pernah ceramah di daerah Jalan Srimahi Bandung tahun lalu, tapi ditentang oleh masyarakat sana. Saya katakan bahwa Alquran yang mereka baca selama ini bukan firman Allah tapi Muhammad anak Abdullah," tuturnya.
Ketika disinggung mengenai penerbitan dua buah bukunya, Sayuti menolak menjelaskan. Dia hanya menyatakan penerbitan buku itu atas biayanya sendiri. "Buku itu saya cetak dengan uang saya sendiri," katanya. (ern/lom)
