Kesejahteraan Wartawan Bandung Masih Prihatin

Kesejahteraan Wartawan Bandung Masih Prihatin

- detikNews
Sabtu, 02 Feb 2008 16:07 WIB
Bandung - Pekerjaan wartawan meski terdengar 'wah' pada kenyataannya tidak jauh berbeda dengan pekerjaan buruh. Kesejahteraan wartawan khususnya di Bandung masih banyak yang berada di bawah UMR.

Hal itu mengemuka dalam diskusi terbuka yang diadakan Solidaritas Wartawan Bandung, di Gedung Indonesia Menggugat Jl. Perintis Kemerdekaan Sabtu (2/2/2008).

Dalam diskusi ini hadir tiga pembicara mewakili tiga aspek, diantaranya Direktur Utama Galamedia, M. Ridlo Eisy sebagai bagian dari media, Akademisi Penyiaran, Santi Indra Astuti, serta Peneliti Perburuhan, Resmi Setia Milawati sebagai perwakilan dari pakar tenaga kerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketiga narasumber mengungkapkan nada serupa tentang keberadaan wartawan, khususnya di Bandung yang memprihatinkan.

"Kondisi ini bisa dilihat dari adanya logika waktu kerja yang pendek. Wartawan dituntut memberi hasil yang banyak dalam waktu singkat tanpa memperhatikan kualitas," ujar Santi.

Hak-hak wartawan sebagai pekerja juga terkikis karena tidak adanya transparansi kondisi perusahaan yang mempekerjakannya. "Jadi tidak jarang kompensasi yang diterima wartawan, apalagi wartawan kontrak, nilainya di bawah UMR," ujar Ridlo menambahkan.

Dari segi perburuhan, dikemukakan bahwa untuk meminimalisir kondisi memprihatinkan itu bisa dengan keberadaan serikat wartawan. Meski diakui ketiga narasumber kinerja serikat wartawan belum sepenuhnya optimal.

"Tidak ada salahnya membangun jaringan sesama wartawan maupun dari luar komunitas wartawan. Jadi serikat atau badan pekerja bisa lebih kuat lagi," ujar Resmi.

Menurut Ridlo, statistik menunjukkan bahwa hanya 30% media di Bandung yang sehat. Dalam artian, kondisi kesejahteraan wartawan baik dan manajemen perusahaan yang jelas. Dikaitkan dengan masalah kesejahteraan, dikemukakan pula bahwa hal ini dapat berimbas ke banyak hal.

"Kalau kompensasi yang diberikan minim, tidak heran kalau loyalitas karyawan kepada perusahaan juga kecil. Ini juga jadi pemicu munculnya 'wartawan amplop'," tambah Ridlo. (twi/ern)


Berita Terkait