Demikian disampaikan ibu kandungnya, Iis Kartika (18), di kamar jenazah RSHS, Jalan Pasteur, Jumat (1/2/2008). "Lagi usia dua bulan, sempat ditetesin kayu putih ke mulutnya. Lalu juga pernah dikasih pedes (lada-red) yang dilarutkan sama air. Kini niatnya terlaksana," tutur Iis.
Saat melakukannya, kata dia, dirinya selalu tidak berada di rumah. "Dia mengaku sendiri setelah saya desak, karena mulut bayi bau," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Suami saya inginnya anak perempuan. Ceunah anak lalaki mah rewel, anak awewe mah soleh (katanya anak laki-laki suka rewel, anak perempuan soleh-red)," katanya.
Kebencian suaminya menjadi-jadi, lanjut Iis, saat usaha suaminya mengumpulkan rongsokan tidak lancar. "Rek nyaah mun usaha urang lancar, mun henteu mah paehan weh anak teh (akan sayang kalau usaha lancar, kalau engga lebih baik anak itu mati-red)," ujarnya.
Perkataan itu, katanya, sering dilontarkan suaminya. Bahkan suaminya pun selalu marah jika Rizki terbangun tengah malam.
Meski begitu, Iis mengaku suaminya tidak pernah memukul dirinya. "Saya juga engga tahu kenapa dia tidak sayang sama anaknya sendiri. Pernah saya tanya, katanya usahanyaa sial gara-gara anak saya. Dia malah bilang anak saya anak setan," ujar ibu muda ini dengan suara bergetar. (ern/lom)











































