Kisah 'Pak Ogah' Difabel Berjuang Mencari Rupiah-Meniti Karier Jadi Atlet

Muhammad Iqbal - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 07:28 WIB
Sopian Effendi saat tengah mengatur lalu lintas di jalanan Kota Cimahi.
Foto: Sopian Effendi saat tengah mengatur lalu lintas di jalanan Kota Cimahi (Muhammad Iqbal/detikcom).
Cimahi -

Seorang pria berbaju hijau berdiri di tengah pertigaan antara Jalan Terusan dan Moh. K. Wiganda Sasmita, Kota Cimahi. Setiap pagi hingga sore, pria itu sering mengatur lalu lintas atau sering dikenal pak ogah.

Terik panas matahari, suara bising klakson kendaraan bukan menjadi masalah baginya. Yang menjadi masalah adalah bila ia tidak membawa uang ketika pulang ke rumah.

Meski nampak mudah, pekerjaan itu tidaklah semudah yang terlihat. Ia harus berdiri tegap dengan berpangku pada satu kaki dan satu tongkat. Ia kehilangan kaki kirinya.

Dengan peluit yang terus menempel di mulutnya ia mencoba mengatur lalu lintas sembari tangan luwesnya bergerak ke sana kemari. Sesekali ia harus berbalik badan dan mengangkat tongkatnya apabila posisi berdirinya kurang pas untuk mengatur jalan dan mengambil uang receh dari pengendara.

Ia pun sesekali beristirahat sejenak kala matahari sudah berada di atas kepala. Begitulah keseharian pria yang bernama Sopian Effendi (37) untuk mencari rupiah.

Kehilangan satu kaki di saat usia produktif bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Dengan keadaan seperti itu, ia merasa tidak berguna karena tidak bisa menafkahi anak dan istrinya.

Begitulah perasaan Sopian usai kehilangan kaki kirinya pada 2017 silam. Kaki kirinya terpaksa diamputasi setelah mengalami infeksi akibat kecelakaan saat bekerja menjadi kuli bangunan.

"Awalnya mah cuman jempol aja yang diamputasi. Tapi ternyata, pergelangan kakinya juga harus dipotong," tutur Sopian di sela istirahatnya.

Ia pun mengurung diri selama hampir satu tahun di dalam rumahnya. Sopian malu bertemu dengan orang lain dan hanya bergantung pada istri dan keluarga untuk sekadar mencukupi rasa laparnya.

Barulah di tahun 2019, ia mulai turun ke jalan. Dengan memakai pakaian hijau, topi dan sebuah peluit putih ia pun mencoba peruntungannya.

Meski sulit, sedikitnya ia mempunyai uang untuk dibawa pulang. Walaupun tidak banyak, uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur di rumah.

"Alhamdulilah, bisa dapet Rp 70-Rp 75 ribu sehari," ucap Sopian.

Meniti Karier Menjadi Seorang Atlet

Di tengah perjalanan, seorang pelatih voli duduk menawarinya untuk bergabung. Bukan sekali pelatih itu melemparkan tawaran itu.

Namun, sang pelatih itu tidak hentinya menawarinya berlatih voli duduk. "Sampai ngedatengin ke rumah pelatihnya juga, saking ditolak terus," ucapnya.

Sopian pun mulai luluh. Ia menerima tawaran itu dan mulai ikut berlatih. Ia bersama beberapa rekannya yang sesama disabilitas berlatih setiap Sabtu dan Minggu di Sekolah Luar Biasa Citeureup, Cimahi.

"Ya saya coba coba aja, di sana juga ketemu sama yang seperti saya. Jadi enggak ngerasa sendiri rasanya," ungkapnya.

Rencananya, tim volinya itu akan mengikuti Porda Jawa Barat di Bekasi. Ia pun berharap dapat bermain dan berharap tidak luput dalam kekurangannya.

"Ya katanya mah yang tim ini bakal ke Porda. Semoga aja bisa main," ungkapnya.

Ia pun kembali untuk mengatur jalan sembari berharap kehidupan esok hari dapat lebih baik daripada hari ini.

Simak juga Video: Tangis Rindu Pak Ogah Pada Pak Raden

[Gambas:Video 20detik]



(mso/bbn)