Sumedang Jadi Pilot Project Budidaya Kacang Koro Pedang

Nur Azis - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 19:07 WIB
Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki dan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat melihat produk UMKM  di Desa Linggajaya, Kecamatan Cisitu, Sumedang.
Foto: Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki dan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat melihat produk UMKM di Desa Linggajaya, Kecamatan Cisitu, Sumedang (Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki menjadikan Kabupaten Sumedang sebagai pilot project dalam budidaya tanaman kacang koro pedang dengan model berbasis koperasi. Kacang koro diyakini mampu menjadi pengganti serta solusi dari ketergantungan impor kedelai.

"Kita pemakan tempe dan tahu sebagai sumber protein nasional namun yang ironi kedelainya kita impor, kita impor antara 2,5 juta sampai 3 juta ton setahun, kita lihat sekarang kacang koro ternyata punya potensi dikembangkan untuk mensubstitusi impor tadi," ungkap Teten saat meninjau budidaya tanaman kacang koro pedang di Desa Linggajaya, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Senin (24/12022).

Teten mencontohkan untuk mengganti impor 1 juta ton kacang kedelai maka dibutuhkan lahan sekitar 200 ribu sampai 250 ribu hektar yang ditanami kacang koro. Dengan perhitungan untuk setiap hektarnya dapat menghasilkan kacang koro sebanyak 5 ton.

"Pak Bupati tadi menyampaikan bahwa wilayah Sumedang saja memiliki potensi seribu hektar (untuk ditanami kacang koro)," terang Teten.

Teten mengatakan pembudidayaan kacang koro di Sumedang nantinya akan berbasis koperasi. Hal ini agar dapat memberikan kepastian kepada para petani dalam hal harga dan pemasaran hasil produksinya.

"Petani yang merupakan anggota koperasi, nanti hasil produksinya akan dibeli oleh koperasi, petani pun akan bersemangat karena ada kepastian harga dan penyerapan produknya, dengan begitu perbankan juga mau membiayai para perani dengan KUR," terangnya.

Sementara koperasi sendiri sebagai off taker agar memiliki kemampuan pembiayaan, nantinya akan ditunjang oleh dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi.

"Kami optimis pembiayaan untuk kacang koro kalau dibikin model bisnis seperti ini bisa sustain (berkelanjutan) dan betul-betul dapat menggantikan impor kedelai karena turunannya bukan hanya untuk tempe tapi juga susu, pakan ternak, bahkan tepung," ucapnya.

Menurut Teten, dirinya bukan tanpa alasan menjadikan Sumedang sebagai pilot project dalam pembudidayaan kacang koro berbasis koperasi. Hal itu lantaran melihat komitmen dari kepala daerah bersama warganya.

"Kita targetkan dulu untuk piloting 100 hektar dulu nanti setelah itu kita scaling lagi," ujarnya.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengaku senang lantaran Sumedang dijadikan sebagai pilot project dalam pembudidayaan kacang koro dengan model bisnis yang telah disiapkan oleh Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

"Tentunya ini menjadi langkah- langkah yang tepat untuk mengatasi persoalan para petani terkait masalah modal dan pasar," ucap Dony.

Dony berkomitmen menjadikan Sumedang sebagai ekosistem budidaya kacang koro. Salah satu upayanya dengan mengubah tanah yang tidak produktif menjadi produktif.

"Sumedang ini sangat luas lahannya, ada lahan kas desa yang belum sepenuhnya produktif, ada lahan perhutani yang dapat dikerjasamakan, terus ada tanah negara yang HGU-nya banyak yang sudah habis dan terlantar, satu sisi ada tanah yang terlantar dan satu sisi ada masyarakat yang miskin dan nanti itu yang akan kita kelola dengan budidaya kacang koro, hal ini sebagai upaya mensejahterakan masyarakat," terangnya.

(mso/mso)