ITB Adopsi Jepang untuk Konsep Pemberdayaan Daerah di Indonesia

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 17:03 WIB
logo itb
Foto: logo itb
Bandung -

ITB menerapkan konsep pengabdian masyarakat pengembangan daerah dengan menelurkan produk. Konsep one village one product (OVOP) ini diterapkan ITB dengan mengadopsi kegiatan pemberdayaan desa yang pernah dilakukan di Jepang.

"OVOP ini sebenarnya merupakan konsep pengembangan desa yang diinisiasi oleh seorang gubernur di Kota Oita, Jepang, bernama Morihiko Hiramatsu. Saat itu, sang gubernur kota ini mampu mengubah kondisi Provinsi Oita yang sebelumnya ditetapkan sebagai wilayah provinsi paling miskin menjadi daerah provinsi percontohan di Jepang," ujar Sekretaris Bidang Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) ITB Deny Willy Junaidy dalam keterangan pers, Senin (24/1/2022).

Deny menuturkan konsep ini sudah digunakan dan diakui beberapa negara di dunia. Bahkan, dia menilai konsep seperti itu cocok dilakukan di Indonesia dalam program pengabdian masyarakat.

Menurut Deny, ITB sebagai perguruan tinggi yang kerap mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat sudah menerapkan konsep tersebut. Dari 270 program pengabdian masyarakat yang dilakukan ITB setiap tahunnya, ITB memastikan kegiatan tersebut selalu berfokus pada pengembangan potensi daerah yang dibina mahasiswa.

Dia menyebutkan ITB mendesain program pengabdian masyarakat dengan mengacu pada empat kategori yakni pemberdayaan desa, pemilihan ekonomi, mitigasi dan adaptasi bencana serta industri kreatif dan pariwisata.

Cara tersebut, menurut Deny, mampu mendeteksi daerah mana saja yang membutuhkan kegiatan pengabdian masyarakat. "Kami membagi wilayah pengabdian masyarakat ini ke dalam lima lingkar, yaitu wilayah di sekitar lingkungan kampus ITB, Provinsi Jawa Barat, Pulau Jawa, Daerah yang berlokasi di luar pulau Jawa, dan wilayah perbatasan serta wilayah 3T (Terluar, Tertinggal dan Terjauh). Harapannya pembagian pola lima lingkar ini akan memberikan persebaran yang merata dalam kegiatan pengabdiannya nanti," kata Deny.

Konsep OVOP dari Jepang

Deny turut menjelaskan konsep OVOP yang diadopsi dari Jepang itu. Menurut Deny, pada awalnya istilah OVOP mulai dikenalkan oleh Gubernur Hiramatsu saat Provinsi Oita terancam mati akibat eksodus besar-besaran yang dilakukan penduduknya tahun 1979.

Upaya diawali dengan keputusan Hiramatsu mengundang para champion masing-masing desa ke dalam pertemuan. Dalam pertemuan, ia mendapatkan informasi setiap daerah di Oita memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan.

Hiramatsu kemudian memutuskan untuk melakukan dukungan dan pelatihan kepada para champion tersebut untuk memulai melakukan berbagai usaha meningkatkan kondisi perekonomiannya. Usaha Hiramatsu membuahkan hasil. Provinsi Oita tak lagi ditetapkan sebagai daerah termiskin di Jepang.

Salah satu buktinya, kata dia, masyarakat di sana berhasil mengembangkan banyak desa untuk berkreasi sesuai potensi seperti di Yuzu dan Taketa Village yang memanfaatkan pertanian jeruk limun sebagai pusat perekonomian mereka.

"Saat eksodus di Oita itu terjadi, Gubernur Hiramatsu tidak langsung mengundang investor. Namun, yang ia lakukan adalah mengadakan pertemuan dengan para champion dan kemudian melakukan dukungan kepercayaan diri kepada mereka agar mampu memanfaatkan potensi daerahnya masing-masing," kata Deny.

(dir/bbn)