Demi Sekolah, Murid SD Bertaruh Nyawa Seberangi Jembatan Reyot di Cianjur

Ismet Slamet - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 16:15 WIB
Puluhan siswa SD di Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur bertaruh nyawa untuk bisa bersekolah.
Foto: istimewa/dokumen Kepala Desa Melati
Cianjur -

Puluhan murid SD di Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur bertaruh nyawa untuk bisa bersekolah. Meski harus meniti jembatan bambu reyot, tak menyurutkan tekad mereka untuk mengenyam pendidikan meski aliran sungai begitu deras mengancam di bawah kaki mereka.

Jembatan bambu sepanjang 15 meter dengan ketinggian 7 meter tersebut membentang di atas Sungai Cikondang yang merupakan perbatasan Desa Wangunjaya dan Desa Malati Kecamatan Naringgul.

Aep Sumpena (50) salah seorang warga mengatakan, para murid yang harus melintasi jembatan tersebut berasal dari Desa Wangunjaya. Setiap harinya mereka harus menantang maut menyeberangi jembatan yang sudah usang dan lapuk demi bersekolah ke SD Datarmuncang di Desa Malati.

"Akses tersebut yang paling dekat. Meski begitu, dari kampungnya ke sekolah para murid harus berjalan sekitar 2 kilometer atau setengah jam. Sedangkan jika lewat jalan memutar, lebih jauh dan waktu tempuhnya lebih lama lagi," ucap dia, Senin (24/1/2022).

Menurutnya jembatan bambu tersebut akan sangat berbahaya saat hujan deras dan arus sungai meluap. Dikhawatirkan jembatan tiba-tiba ambruk dan memakan korban.

"Yang kami khawatirkan kalau hujan, Anak-anak bisa celaka. Tapi mau bagaimana lagi, itu akses satu-satunya," tutur dia.

Puluhan siswa SD di Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur bertaruh nyawa untuk bisa bersekolah.Puluhan murid SD di Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur bertaruh nyawa untuk bisa bersekolah. Foto: istimewa/dokumen Kepala Desa Melati

Sementara itu Kepala Desa Malati Ceceng Rustiawan, mengatakan pihaknya sudah mengajukan pembangunan jembatan yang menjadi perbatasan Desa Malati dan Wangunjaya tersebut pada 2018 lalu.

Pasalnya selain akses bagi para murid, jembatan tersebut juga digunakan warga untuk mengirim hasil panen.

"Kita sudah usulkan sejak 2018 lalu, tapi belum ada kabar sampai sekarang. Adapun pembangunan jembatan yang sudah dilakukan yakni di titik lain, yang menghubungkan Desa Malati dengan Naringgul, sedangkan yang menghubungkan dengan Desa Wangunjaya belum ada kabar akan terealisasi," ujar Ceceng.

"Kami berharap segera ada pembangunan, agar warga dan murid tidak dihantui ancaman jembatan ambruk dan memakan korban," pungkasnya.

(yum/bbn)