Panas Bumi Jadi Primadona Pengembangan EBT di Jabar

Yudha Maulana - detikNews
Senin, 20 Des 2021 19:24 WIB
PLTP Kamojang yang berada di Jawa Barat merupakan pembangkit listrik yang mengandalkan tenaga panas bumi. PLTP ini disebut sebagai yang tertua lho di Indonesia.
Ilustrasi (Foto: Rifkianto Nugroho)
Bandung -

Panas bumi masih menjadi primadona sumber energi baru terbarukan (EBT) di Jabar. Upaya transisi menuju Net Zero Emission 2060 terus dilakukan dengan panas bumi sebagai tulang punggungnya.

Star Energy Geothermal, sebagai salah satu perusahaan penghasil daya panas bumi terbesar di Indonesia terus mengembangkan potensi panas bumi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat.

External Communications Team Manager Star Energy Geothermal Bagus Krisna Tandia pihaknya mengatakan, panas bumi memberikan peluang bagi banyak negara untuk melakukan diversifikasi bauran pembangkitan daya secara berkelanjutan.

Berbeda dengan daya yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atau Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Optimalisasi panas bumi menghasilkan daya base load terus menerus, tanpa terpengaruh waktu dan cuaca.

"Namun, terlepas dari 100 tahun pengembangan, hanya baru sekitar 15% dari cadangan yang diketahui saat ini yang dieksploitasi dan menghasilkan listrik,"ujarnya dalam Diskusi Media bersama PWI Pokja Gedung Sate di Upnormal Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (20/12/2021).

Saat ini, Star Energy Geothermal,memiliki tiga aset titik panas bumi di Jabar yakni di Gunung Salak, Darajat dan Wayang Windu, Star Energy pun saat ini tengah mengekplorasi panas bumi di Sekincau dan Haminding.

Ia mengatakan, dengan adanya pengembangan energi panas bumi sejalan dengan penerapan Long-Term Strategy for Low Carbon & Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050 - yaitu strategi dan arah kebijakan perubahan iklim dengan kerangka waktu hingga 2050 sebagaimana diamanatkan oleh Paris Agreement dengan target mencapai Net Zero Emission di 2060.

"2060 di sini bukan berarti sama sekali nanti tidak ada produksi karbon namun emisi karbon dikurangi bahkan kalau bisa negatif," ucapnya.

Panas bumi, memberikan peluang kestabilan pembangkit energi di tahap-tahap awal masa transisi energi di Indonesia (2021-2035). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (K-ESDM) pun telah membuat Peta Jalan Transisi Energi Menuju Karbon Netral (2021-2060).

Ia pun menepis anggapan bahwa optimalisasi panas bumi dianggap merusak lingkungan dengan menyerap air permukaan. Padahal, justru sebaliknya, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) menjadi benteng bagi lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitarnya.

"Mengapa mengembangkan panas bumi, yang pertama ramah lingkungan karena bukan merupakan energi fosil dimana pelepasan karbon ke atmosfir sangat rendah. Kemudian,cocok sekali untuk dioperasikan sepanjang waktu (24/7/365) sebagai sumber daya baseload yang stabil tanpa tergantung cuaca dan fenomena iklim lainnya,"ujarnya.

Ia mengatakan, memang biaya investasi untuk eksplorasi dan pengembangan panas bumi relatif tinggi. Namun, panas bumi memberikan biaya per-kWh yang cukup kompetitif karena tingginya faktor ketersediaan dan tanpa biaya bahan bakar.

"Selama masa operasi fasilitas pembangkitnya yang lama, kedua faktor di atas mengkompensasi biaya investasi yang tinggi di awal. Kemudian, teknik dan komersialisasi yang telah terbukti dan teknologi yang telah matang, tidak seperti teknologi energi terbarukan lainnya,"ucapnya.

Terakhir, alasan pengembangan panas bumi ini adalah ukuran pemanfaatan yang dapat diperbesar (scalable to utility size) di atas 50 MW tanpa mengambil tanah dan ruang yang banyak. "Jadi kalau mau menambah kapasitas bukan berarti memperluas lahan," katanya.

(yum/mud)