Teror-Ancam Debitur, 2 Pegawai Pinjol Ilegal di Bogor Ditangkap

M Solihin - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 17:34 WIB
Pinjaman online abal-abal
(Foto: Pinjaman online abal-abal (Fauzan Kamil/detikcom)
Bogor -

Dua pegawai perusahaan pinjaman online (pinjol) ilegal berinisial SS (21) dan SW (23) ditangkap tim Buser Polres Bogor. SS dan SW ditangkap karena melakukan ancaman terhadap debitur yang gagal bayar tepat waktu melalui pesan elektronik.

Kapolres Bogor, AKBP Harun menjelaskan, SS dan SW ditangkap setelah pihaknya mendapat laporan dari seorang perempuan asal Kabupaten Bogor, yang merasa diteror serta diancam oleh SS dan SW, karena gagal bayar pinjol tepat waktu. Akibatnya, korban syok hingga akhirnya sakit dan harus menjalani perawatan.

"Korban diancam melalui WA, kalau tidak membayar maka informasi hutang itu akan disebar ke teman-temannya korban, dan dimasukan grup WA dimana isinya adalah teman-teman korban, supaya teman-temannya tahu kalau korban punya hutang," jelas Harun di Mapolres Bogor, Selasa (7/12/2021).

"Ancaman ini membuat korban syok, bahkan sakit dan mendapat perawatan di rumah sakit," tambah Harun.

Harun menyebut, korban yang identitasnya dirahasiakan ini terjebak hutang pinjol hingga lebih dari Rp 200 juta. Hutang itu dipinjam korban dari 54 aplikasi yang belakangan terungkap dikelola oleh satu perusahaan yang berkantor di Jakarta.

"Korban punya hutang sampai 200 jutaan, itu berikut bunga, yang dipinjam di 54 aplikasi. Ternyata 54 aplikasi ini merupakan aplikasi yang dibuat oleh perusahaan tempat kedua tersangka bekerja, nama perusahaannya Bright Finance Indonesia," ungkap Harun.

"Setelah kira berkoordinasi dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan), kita ketahui ternyata ini pinjol ilegal, semuanya (54 aplikasi milik BFI) ilegal," tambah Harun.

Harun melanjutkan, kedua tersangka diamankan di tempat berbeda. SS ditangkap di rumah kontrakannya di Depok, sedangkan SW ditangkap di Batam.

"Keduanya ini bekerja di Bright Finance Indonesia, kantornya di Taman Anggrek. Tapi karena kemarin pandemi, mereka kerja WFH. Makanya kedua tersangka kita amankan tidak di kantor tapi di rumah kontrakannya, pertama di Depok kemudian kedua di Batam," terang Harun.

Dalam perannya, tersangka SS bekerja sebagai penagih. Ia meneror bahkan mengancam setiap debitur yang gagal bayar pinjol tepat waktu. Sementara SW, merupakan translater (penerjemah) bahasa China.

"Untuk tersangka SS ini perannya sebagai penagih, gajinya 3-5 juta. Tetapi dapat bonus kalau bisa tagih hutang debitur. Kalau SW ini yang perempuan sebagai translater, penerjemah, karena atasan mereka WNA, diduga WNA China karena setiap komunikasi menggunakan bahasa China," ungkap Harun.

Kedua tersangka kata Harun, dijerat dengan pasal 45 ayat 4 junto Pasal 27 ayat 4, Pasal 45 B junto Pasal 29 Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Transaksi dan Informasi Elektronik.

"Ancamannya maksimal 6 tahun," tutup Harun.

(mud/mud)