Diduga Gangguan Jiwa, Suami Bacok Istri di Pandeglang

Rifat Alhamidi - detikNews
Senin, 06 Des 2021 19:56 WIB
Ilustrasi pengeroyokan, ilustrasi penganiayaan, audrey
Ilustrasi penganiayaan (Foto: Ilustrasi: Fuad Hashim)
Pandeglang -

Seorang ibu rumah tangga di Pandeglang, Banten berinisial S menjadi korban pembacokan yang diduga telah dilakukan suaminya sendiri yakni R. Sang suami, diduga kuat mengidap penyakit gangguan jiwa atau ODGJ sehingga tega melayangkan sabetan benda tajam kepada istrinya.

Informasi yang dihimpun, peristiwa memilukan itu terjadi pada Sabtu (4/12/2021) lalu. Kabar soal pembacokan ini pun cepat menyebar di kalangan warganet Pandeglang lantaran telah berulang kali dibagikan di akun-akun media sosial.

Tetangga korban, Muhamad Masdani menceritakan awal mula peristiwa pilu yang terjadi sekira pukul 05.30 WIB itu, tepatnya saat korban hendak menunaikan salah subuh di rumahnya. Namun tiba-tiba, ia diserang oleh suaminya sendiri yang diduga kuat mengalami gangguan kejiwaan.

"Kejadiannya subuh, orangnya mau mandi mau salat subuh. Saya juga belum tahu motifnya apa, tapi warga di sini udah pada tahu kalau suami korban itu punya penyakit kejiwaan," katanya saat berbincang dengan detikcom di Pandeglang, Banten, Senin (6/12/2021).

Akibat serangan itu, korban mengalami luka bacok cukup parah di bagian punggungnya. Untungnya, warga yang mendengar keributan ini bisa langsung melerai aksi brutal sang suami dan langsung membawa korban ke RS Pandeglang.

Foto-foto korban dengan luka bacok itu pun banyak dibagikan di media sosial. Ia terlihat sedang berbaring di sebuah kasur, sementara luka bacoknya sudah mulai mendapat penanganan medis dan telah dijahit.

"Kalau untuk motifnya kita juga enggak tahu seperti apa, karena memang kejadiannya pas lagi sepi. Itu di rumah posisinya cuma ada mereka doang berdua, sementara warga tahunya memang si suaminya itu punya penyakit jiwa," ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Dani ini juga bercerita, sebelum suami korban mengalami gangguan kejiwaan, dia pernah pergi merantau ke daerah Bangka untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Namun sepulang dari perantauan itu, sikap pelaku mulai menemui tanda-tanda keanehan.

"Sebetulnya kalau dia lagi normal, dia bisa diajak ngobrol, kadang suka nimbrung juga sama bapak-bapak di sana ngopi bareng. Tapi kalau udah kambuh, dia jadi ketakutan kalau denger suara yang rame-rame. Warga di sini juga udah tahu kondisinya begitu," tuturnya.

Terkait masalah pembacokan, Dani dan warga di sana pun menyerahkan persoalan ini ke pihak kepolisian. Pasalnya, warga sedang fokus membantu pengobatan korban yang tergolong masyarakat kurang mampu di kampungnya.

Ditambah, pengobatan korban juga tak bisa diklaim oleh BPJS. Padahal setelah dihitung, total biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan korban mencapai Rp 35 juta.

"Kami fokus galang dana sekarang buat si ibu, karena beliau enggak bisa pake BPJS kalau mau dioperasi. Sementara biayanya cukup besar, makanya kami ngumpulin dana buat meringankan keluarganya," ungkapnya.

"Informasi terakhirnya, katanya suami korban masih di sana. Tapi saya juga belum mastiin lagi yah karena warga menyerahkan kasus ini ke polisi baiknya seperti apa," tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Pandeglang AKP Fajar Mauludi masih irit bicara mengenai permasalahan ini. Ia mengaku masih perlu menunggu laporan dari anggotanya untuk memastikan kasus tersebut.

"Saya belum monitor lagi om. Tar saya informasikan lagi yah kalau sudah ada kabar terbaru," pungkasnya.

(mud/mud)