Ini Kata Pakar ITB soal Penyebab Erupsi Gunung Semeru

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 12:38 WIB
Aktivitas Gunung Semeru masih terus dipantau usai erupsi pada Sabtu (4/12) lalu. Warga pun diminta waspada potensi awan panas-lahar dingin dari aktivitas Semeru
Foto: Sehari usai erupsi Gunung Semeru masih luncurkan awan panas (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto).
Bandung -

Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung Mirzam Abdurrachman menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan Gunung Semeru mengalami erupsi. Selain itu, material lahar yang keluar merupakan akumulasi dari letusan sebelumnya yang menutupi kawah gunung tersebut.

"Terkikisnya material abu vulkanik yang berada di tudung gunung tersebut membuat beban yang menutup Semeru hilang sehingga membuat gunung mengalami erupsi," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (5/12/2021).

Dia menyebut, saat terjadi erupsi warga tidak merasakan adanya gempa. Namun seismograf merekam adanya getaran saat terjadi erupsi. Menurutnya hal itu disebabkan karena sedikitnya material yang berada di dapur magma.

Selain itu, lanjut dia, ada 3 faktor yang menyebabkan gunung api meletus. Pertama karena volume di dapur magmanya sudah penuh, kedua karena ada longsoran di dapur magma yang disebabkan terjadinya pengkristalan magma, dan yang ketiga di atas dapur magma.

"Faktor yang ketiga ini sepertinya yang terjadi di Semeru, jadi ketika curah hujannya cukup tinggi, abu vulkanik yang menahan di puncaknya baik dari akumulasi letusan sebelumnya, terkikis oleh air, sehingga gunung api kehilangan beban. Sehingga meskipun isi dapur magmanya sedikit yang bisa dilihat dari aktivitas kegempaan yang sedikit (hanya bisa dideteksi oleh alat namun tidak dirasakan oleh orang yang tinggal di sekitarnya), Semeru tetap bisa erupsi," ungkapnya.

Dosen pada Kelompok Keahlian Petrologi, Vulkanologi dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) itu mengungkapkan Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif tipe A. Berdasarkan data dan pengamatan yang dilakukan, Mirzam berkesimpulan bahwa Gunung Semeru memiliki interval letusan jangka pendeknya 1-2 tahun. Terakhir tercatat pernah juga mengalami letusan di tahun 2020 juga di bulan Desember.

"Letusan kali ini, volume magmanya sebetulnya tidak banyak, tetapi abu vulkaniknya banyak sebab akumulasi dari letusan sebelumnya," jelasnya.

Dia menambahkan arah letusan Gunung Semeru bisa diprediksi yaitu mengarah ke tenggara. Hal ini karena mengacu pada peta Geologi Semeru, bidang tempat lahirnya gunung ini tidak horizontal tetapi miring ke arah selatan.

"Kalau kita mengacu pada letusan 2020, arah abu vulkaniknya itu cenderung ke arah tenggara dan selatan karena anginnya berhembus ke arah tersebut begitu juga dengan aliran laharnya karena semua suangai yang berhulu ke puncak Semeru semua merngalir kea rah selatan dan tenggara," tambahnya.

Mirzam mengindikasikan abu vulkanik gunung semeru cenderung berat yang ditandai dengan warnanya yang abu-abu pekat. Hal tersebut terlihat dari visual di puncak Gunung Semeru. Sehingga ketika letusan-letusan sebelumnya terjadi, abu vulkaniknya jatuh menumpuk di hanya di sekitar area puncak gunung semeru, ini yang menjadi cikal bakal melimpahnya material lahar letusan 2021.

Mirzam menuturkan, bahaya dari gunung api secara umum ada dua, yaitu primer dan sekunder. Bahaya primer berkaitan dengan saat gunung meletus dan bahaya sekunder setelah gunung api tersebut meletus. Bahaya primer dari letusan ialah aliran lava, wedus gembel, dan abu vulkanik. Sementara bahaya sekunder salah satunya terjadinya banjir bandang atau pun lahar. "Dua-duanya sama-sama berbahaya," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, BNPB memberikan update terkini seputar bencana erupsi Gunung Merapi, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sebanyak 13 warga dilaporkan meninggal dunia.

"Total 13 orang dilaporkan meninggal dunia akibat peristiwa tersebut," ujar ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu (5/12/2021).

Dari 13 korban, baru 2 warga yang sudah berhasil diidentifikasi. Keduanya berasal dari Curah Kobokan dan Kubuan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Simak Video 'Saat Warga Panik Berlarian Mengira Ada Awan Panas Susulan Semeru':

[Gambas:Video 20detik]



(wip/mso)