Diduga Gegara Pilkades, Warga Blokir Jalan Desa di Pandeglang

Rifat Alhamidi - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 15:02 WIB
Pondasi rumah halangi jalan desa di Pandeglang.
Foto: Pondasi rumah halangi jalan desa di Pandeglang (Rifat Alhamidi/detikcom).
Pandeglang -

Gelaran Pilkades serentak di Pandeglang, Banten memang telah usai. Namun ternyata, polemiknya masih terbawa hingga sekarang bahkan menyebabkan jalan di sebuah desa diblokir dan dibuat menjadi pondasi untuk pembangunan rumah baru.

Peristiwa itu terjadi di Desa Cigeulis, Pandeglang. Berdasarkan pantauan detikcom, sebuah jalan desa dengan ukuran sekitar empat meter itu kini tak bisa lagi dilintasi oleh warga. Penyebabnya, karena ada pondasi untuk pembangunan rumah baru yang berdiri tepat di tengah jalan tersebut.

Otomatis, pondasi rumah ini mengakibatkan kendaraan warga baik roda dua maupun roda empat tak bisa melintas lagi di jalan tersebut. Padahal tadinya, sarana perlintasan ini sering digunakan untuk mengangkut hasil bumi dan akses perekonomian bagi warga.

"Ini kurang lebih kejadiannya udah hampir mau dua bulan. Yang lewat bukan hanya orang sini doang, tapi juga dari luar yang bawa hasil pertanian warga," kata Eman, warga setempat saat berbincang dengan detikcom di lokasi, Pandeglang, Jumat (3/12/2021).

Rumah Eman kebetulan berada tepat di depan pondasi rumah baru yang menutup jalan desa tersebut. Ia pun mengaku tak tahu menahu kenapa tetangganya nekat membuat pondasi rumah hingga memblok jalan desa itu. Tapi yang jelas, pembangun ini dimulai tepat seminggu setelah gelaran pilkades serentak di Pandeglang telah selesai.

"Itu semingguan lah bangun pondasinya setelah pencoblosan (Pilkades). Saya juga kurang tahu masalahnya apa sampai dijadikan pondasi terus nutup jalan gitu, enggak tahu kalau warga di sini mah," ungkapnya.

Usut punya usut, tetangga Eman yang membangun pondasi rumah hingga memblokir jalan itu ternyata memiliki ikatan keluarga dengan salah satu calon yang kalah di pilkades kemarin. Eman pun merasa aneh lantaran selama puluhan tahun tinggal di sana, ia baru merasakan jalan umum yang menjadi akses vital warga kini malah diblokir oleh tetangganya hanya untuk pembangunan rumah.

"Iyah, dia masih saudaraan sama calon yang kemarin. Itu (calonnya) kalah, tapi kita juga enggak tahu kenapa akhirnya kok kayak gini. Ini mah kan sama aja nyusahin kita yang tinggal di sini," tuturnya.

Karena kondisi tersebut, Eman pun akhirnya merelakan tanah di depan rumahnya selebar tak lebih dari dua meter dibuka untuk pengganti sementara jalan yang diblokir oleh tetangganya itu. Eman dan warga sekitar bahkan harus gotong royong mengangkut bebatuan dari luar untuk pengerasan jalan.

"Di situ kan sudah dipondasi jalannya, akhirnya saya muterin ke tanah saya. Saya kasian ke masyarakat, jadi saya bikin jalan di sini supaya bisa lewat," ucapnya.

Eman dan warga setempat pun berharap ada tindakan tegas dari pemerintah desa hingga kecamatan supaya bisa membongkar pondasi rumah yang dibangun tetangganya itu. Pasalnya, warga pernah menegur orang yang membangun di atas jalan tersebut namun tak mendapat respons hingga sekarang.

"Ditegur udah pernah, tapi kan gimana kita juga enggak bisa ngapa-ngapain soalnya dia nya ngeklaim kalau tanah itu punya dia. Kita pengennya dikembalikan lagi nih ke posisi semula, jadi memang harus dibongkar pondasinya, kalau bisa dibagusin lagi dicor itu jalannya," harapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Cigeulis Anto Wiryo mengaku sudah mendapat informasi mengenai pemblokiran jalan yang dibuat untuk pondasi rumah tersebut. Ia juga membenarkan polemik ini masih berhubungan dengan gelaran Pilkades kemarin.

"Iyah itu kejadiannya setelah pilkades, pokoknya habis pemilihan itu mulai dibangun rumahnya. Karena setahu saya, yang ngebangunnya ini saudara dari lawan saya di pilkades. Jadi bisa saja mungkin karena kalah yah, akhirnya ngeklaim tanah itu terus jalannya ditutup buat bangun rumah," katanya.

Menyikapi polemik ini, Anto memastikan akan segera memanggil warga yang meblokir jalan di desanya itu. Ia menegaskan, pemilik yang mengklaim tanah tersebut pun akan diminta untuk membongkar pondasi rumahnya supaya jalan tersebut bisa digunakan lagi oleh warga.

"Ini kan jalan umum, bukan milik pribadi. Penduduk di sana juga banyak, siapa saja yang mau masuk sampe ke ujung kampung lewatnya harus ke sini dulu. Jadi, harus dikembalikan ke posisi seperti biasa, harus dibuka lagi intinya. Kalau memang nanti pemiliknya enggak mau, tetep keukeuh, saya yang akan bongkar itu pondasinya," pungkasnya.

(mso/mso)