Ragam Modus Pria Lakoni Phishing-Phone Sex yang Dibongkar Polda Jabar

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 14:47 WIB
Darkweb, darknet and hacking concept. Hacker with cellphone. Man using dark web with smartphone. Mobile phone fraud, online scam and cyber security threat. Scammer using stolen cell. AR data code.
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Tero Vesalainen)
Bandung -

Pria di Palembang berinisial Y ditangkap Polda Jabar. Dia melakukan serangkaian kejahatan siber di dunia maya. Apa saja?

"Tindak pidana ITE yang dilakukan phishing, kemudian investasi bodong, aplikasi jual-beli palsu, kemudian phone sex," ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Arief Rachman di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Jumat (3/12/2021).

Y dibekuk jajaran Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin Kasubdit V Kompol A Prasetya. Dia ditangkap petugas di Palembang.

Kembali ke soal tindak pidana ITE. Arief mengatakan beragam modus kejahatan siber dilakukan oleh Y. Untuk phishing misalnya, Y membuat sebuah website abal-abal yang mengarahkan korban untuk mengisi nomor rekening dan PIN.

"Modus pertama yaitu phishing. Mengambil alih m-banking korban dengan cara mengirimkan link. Ini harus waspada dalam proses pembelajaran masyarakat," ucapnya.

Modus kedua, Y membuat investasi bodong. Dia menggunakan akun palsu pada sebuah website dengan embel-embel investasi online.

"Di mana yang bersangkutan menggunakan akun palsu kemudian melakukan breaching (melanggar) ke aplikasi tersebut di mana hal ini tentunya akan bertentangan juga dengan peraturan pemerintah dan pengawasan dari OJK," ujar Arief.

Modus ketiga yang dilakukan oleh Y adalah membuat aplikasi jual-beli palsu. Pada aplikasi tersebut, Y mencantumkan call center dan kode bayar palsu.

Kemudian modus terakhir, Y melakukan phone sex dengan korban. Y dan korban awalnya berkenalan hingga berlanjut ke phone sex dan melakukan pemerasan.

"Nah, ini mungkin yang harus diwaspadai di mana tersangka berkenalan dengan korban di medsos dan membujuk korban memberikan foto dan video bermuatan pornografi. Kemudian tersangka merekam dan setelah itu meminta sejumlah uang. Jadi lebih kepada pemerasan," tuturnya.

"Nah, ini modus yang dia lakukan. Sekarang sangat masif dan berkembang dan hal ini harus kita waspadai bersama di era IT saat ini," Arief menambahkan.

(dir/bbn)