Apa Bahasa Sundanya Makan, Jangan Sampai Salah Pakai Ya!

Faizal Amiruddin - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 10:15 WIB
Ilustrasi Bahasa yang hilang
Ilustrasi bahasa (Foto: Tes)
Bandung -

Sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia, Bahasa Sunda punya keunikan dibanding bahasa nasional dan bahasa daerah lainnya. Bahasa Sunda memiliki tata bahasa yang mengatur tingkatan, mengatur tatakrama atau mengatur kepada siapa seharusnya kata itu diucapkan. Tingkatan kata dalam bahasa Sunda ini dikenal dengan sebutan undak usuk basa.

Salah satu contoh kata yang sering membuat bingung dalam penggunaan bahasa Sunda adalah kata 'makan'. Dalam bahasa Indonesia kata makan bisa digunakan atau memiliki 'rasa' yang sama ketika diucapkan kepada siapa pun. Kata 'makan' bisa digunakan kepada orang yang kita hormati dan kata 'makan' juga digunakan kepada binatang.

Namun hal itu berbeda dalam bahasa Sunda, ada banyak kata bermakna 'makan', yang pengucapannya harus disesuaikan dengan aturan undak usuk basa Sunda.

Kata 'makan' dalam bahasa Sunda yang paling populer adalah 'dahar'. Kata ini boleh jadi kata bermakna 'makan' yang paling sering terdengar dalam percakapan masyarakat tatar Sunda. Tapi jangan salah, kata 'dahar' tidak sopan jika diucapkan kepada orang tua, senior atau orang yang kita segani. Berikut adalah sebagian kata dalam bahasa Sunda yang berarti makan dengan tingkatan tatakrama dan contoh penggunaannya.

1. Dahar

Kata ini memiliki tingkatan tatakrama loma alias akrab. Penggunaan kata 'dahar', pas digunakan kepada kawan sebaya yang sudah dekat. Misalnya digunakan pada kalimat "maneh geus dahar acan?" yang berarti "kamu sudah makan belum?".
Selain 'dahar' ada bahasa Sunda lain yang tingkatannya setara, yaitu 'madang'. Namun kata 'madang' umumnya digunakan oleh masyarakat Sunda yang letak geografisnya berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah, seperti Pangandaran, Ciamis, Banjar dan lainnya. Kata 'madang' ini merupakan bahasa hasil akulturasi bahasa Sunda dan Jawa.

2. Tuang

Kata 'tuang' adalah versi halus dari 'dahar'. Kata ini digunakan kepada orang yang harus kita hormati atau kita ingin memberikan penghormatan kepadanya. Misalnya digunakan pada kalimat "Dupi bapa parantos tuang?". Kalimat ini berarti "Apakah bapak sudah makan?".

3. Neda

Keunikan bahasa Sunda juga terdapat pada perbedaan pilihan kata untuk menunjuk diri sendiri dan menunjuk orang lain. Misalnya kata 'neda' dan 'tuang' ini adalah sama-sama bahasa halus dari makan, tapi 'neda' digunakan untuk menunjuk diri sendiri sementara 'tuang' digunakan untuk menunjuk orang lain.
Contoh penggunaannya "Antosan sakedap abdi bade neda heula" yang berarti "Tunggu sebentar saya mau makan dulu,". Walau pun sama-sama terdengar halus tapi kalimat "Antosan sakedap abdi bade tuang heula" adalah penggunaan yang keliru.

4. Emam

Emam atau mamam adalah bahasa Sunda dari 'makan' yang tergolong halus. Tapi penggunaannya cocok dilafalkan kepada anak-anak atau sebagai bahasa kasih sayang. Misalnya dalam kalimat "Geura emam geulis," yang berarti "Makan dulu cantik,".
Tak sedikit masyarakat Sunda yang kerap salah kaprah dalam penggunaan kata 'emam' ini. Kata untuk anak-anak tersebut, malah digunakan kepada orang yang harus dihormati. Walau pun dianggap halus, tapi jika merujuk penggunaan bahasa Sunda yang benar, hal itu adalah sebuah kekeliruan.

5. Nyatu

Kata ini adalah 'makan' dalam versi kasar. Biasanya terdengar diucapkan oleh orang yang sedang terbakar emosi atau digunakan kepada binatang. Misalnya "Ucing gering teu daek nyatu" yang berarti "Kucing sakit tidak mau makan". Selain kata 'nyatu' adalah banyak lagi kata berarti makan dalam bahasa Sunda kasar. Diantaranya barang hakan, lolodok, teteleg, jajablog, cacapluk, ngagares dan lainnya.

(mud/mud)