Round-Up

Tangis Valencya Bacakan Pledoi: Habis Gelap Terbitlah Kriminalisasi

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Jumat, 19 Nov 2021 09:42 WIB
Valencya merasa dikriminalisasi dalam pembacaan nota pembelaan
Suasana sidang Valencya (Foto: Yuda Febrian Silitonga/detikcom).
Bandung -

Air mata Valencya pecah saat mencari keadilan atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) psikis. Istri di Karawang ini dituntut satu tahun bui gegara omelin suami yang mabuk.

Upaya Valencya mencari keadilan dilakukan melalui pembacaan nota pembelaan atau pleidoi yang dia bacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Karawang pada Kamis (18/11) kemarin. Dia membacakan sendiri pleidoi pribadinya itu dihadapan majelis hakim yang diketuai Ismail Gunawan.

Pleidoi dibacakan Valencya usai tim kuasa hukumnya membacakan pleidoi. Valencya yang sudah duduk di kursi pesakitan, kemudian diberikan kesempatan oleh Majelis Hakim untuk membacakan pledoi.

Dalam pembacaan lampiran pledoi, Valencya tak kuasa membendung air mata. Ia merasa terzalimi atas kasus yang menimpanya.

"Ini pembelaan saya, habis gelap terbitlah kriminalisasi," ucap Ibu dua anak itu.

Sepenggal kalimat ikonik Ibu Kartini itu diambil Valencya merujuk pengalamannya selama menjalani biduk rumah tangga dengan mantan suaminya Chan Yu Ching yang juga melaporkan Valencya hingga berujung di meja hijau. Dalam pleidoi, Valencya juga turut menceritakan kisahnya selama menjadi istri Chan.

Valencya mengaku sejak awal dirinya merasa telah dizalimi oleh sang suami. Kenyataan pahit terpaksa dia alami saat mengetahui sikap buruk sang suami. Dalam pleidoi-nya, Valencya menyebut mantan suaminya itu pemabuk, penjudi, bahkan ternyata duda anak tiga.

"Tapi sebagai wanita, saya berusaha bertahan memperbaiki keadaan dan berharap suami bisa berubah. Berharap anak-anak tetap memiliki keluarga yang utuh walaupun memendam luka batin mendalam berkepanjangan mendengar pengakuan suami selain sering mabuk dan main perempuan, ternyata saudara sepupu saya pun pernah dia tiduri," tutur Valencya.

Puluhan tahun menahan sakit, gugatan cerai dilayangkan di Pengadilan Negeri Karawang. Hakim mengetuk palu meresmikan perceraian mereka. Akan tetapi, kemerdekaan yang diharapkan Valencya terlepas dari suaminya tak begitu saja muncul. Dia mengaku justru terus diintimidasi sang suami bahkan dilaporkan atas tuduhan KDRT psikis.

Valencya memang mengakui pernah mengirimkan rekaman suara kepada suaminya. Akan tetapi, hal itu dilakukan lantaran suaminya tak kunjung pulang dan menelantarkan keluarga.

"Bahwa adanya voice note yang saya kirimkan, saya tidak pungkiri. Saya memang mengirimkan voice note beberapa minggu setelah suami tidak pulang-pulang. Istri mana yang tidak marah suaminya tidak pulang? Voice note membuktikan, walau dalam keadaan marah, saya berkali-kali mencoba menelepon suami agar dia pulang. Tetapi handphone-nya sering dimatikan. Jadi solusinya saya mengirimkan voice note dalam kondisi galau, labil, tertekan dan marah," katanya.

Hingga akhirnya Valencya dibawa ke meja hijau. Namun, Valencya mengaku merasa janggal dengan peradilan yang dia jalani. Beberapa saksi yang dihadirkan oleh pihaknya diabaikan jaksa. Hingga akhirnya dia dituntut satu tahun penjara.

"Mengapa kesaksian saksi ahli saya diabaikan dan dimanipulasi? Masih layak kah saya dijadikan narapidana dengan ancaman pencara 1 tahun? Saya ibu yang merangkap ayah bagi anak-anak saya. Saya bukan pembunuh, perampok ataupun koruptor. Saya hanya membela, memperjuangkan masa depan yang lebih baik untuk diri saya dan anak-anak, masa depan keluarga saya sendiri, bukan kriminal," kata dia.

Valencya meminta keadilan atas perkaranya itu. Dia memohon agar majelis hakim bisa memberikan keadilan kepadanya.

"Kepada yang mulia majelis hakim, saya memohon keadilan dan perlindungan yang seadil-adilnya. Karena saya percaya masih ada keadilan hukum di Indonesia dan masih banyak penegak hukum yang memiliki hati nurani membela yang lemah dan terzalimi," tutur dia.

"Saya dan mungkin banyak wanita Indonesia lainnya, selaku wanita yang menjadi korban kekerasan psikis bahkan fisik berkepanjangan di dalam rumah tangga, kami berharap hukum di Indonesia semakin baik dan adil. Tidak ada lagi kaum-kaum yang secara sistimatis ditindas oleh oknum-oknum dengan mencari celah-celah hukum. Apa yang saya alami kini, semoga yang terakhir," kata dia menambahkan.

Simak video 'Kejaksaan Agung Ambil Alih Perkara Istri Omeli Suami Dituntut 1 Tahun':

[Gambas:Video 20detik]



(dir/mso)