Istri Dituntut 1 Tahun Gegara Omeli Suami, DPRD Karawang: P2TP2A Harus Melek

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Senin, 15 Nov 2021 19:23 WIB
Karawang -

Kasus istri dituntut 1 tahun bui gegara omeli suami di Karawang menyita perhatian publik. DPRD Karawang mendesak Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) menindaklanjutinya.

"P2TP2A harus melek melihat kasus ini, dan menjadi perhatian agar segera ditindaklanjuti," kata anggota Komisi 4 DPRD Karawang Indriyani saat diwawancarai, Senin (15/11/2021).

Selain itu katanya, ia prihatin atas kejadian yang menimpa V selaku istri yang dilaporkan.

"Saya sangat prihatan atas kasusnya, dan semoga kasus ini pertama dan terakhir dan bisa diselesaikan antara kedua belah pihak dan tidak ada lagi kasus serupa," ungkap Indriyani yang juga pegiat perempuan di Karawang.

Ia juga menjelaskan sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk bisa membantu menyelesaikan permasalahan V dan mantan suaminya.

"Saya sudah koordinasi dengan berbagai pihak khusus kasus ini, dan semoga keputusan persidangan bisa lebih adil dalam memutuskan perkara ini," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Ibu anak dua inisial V (45) dituntut 1 tahun penjara karena kerap omeli suaminya yang mabuk, CYC, asal Taiwan. Hal tersebut terungkap dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Karawang, hingga kemudian pemberitaannya viral dan menyita publik.

Dalam pembacaan tuntutan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengatakan inisial V (45) menjadi terdakwa dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) psikis dan dituntut 1 tahun kurungan penjara.

Saat dikonfirmasi, JPU Glendy Rivano mengatakan dari hasil pemeriksaan persidangan terdakwa V terbukti menjadi terdakwa terhadap suaminya.

"Jadi kasus ini masuk dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bahwa diperoleh diperoleh fakta-fakta melalui keterangan saksi dan alat bukti bahwa inisial V terbukti jadi terdakwa dengan dijerat Pasal 45 ayat 1 Junto pasal 5 huruf b," ungkap Glendy usai persidangan pembacaan tuntutan di PN Karawang, Kamis (11/11/2021) lalu.

(mud/mud)