Warga Bandung Barat Diminta Waspadai Ancaman DBD

Whisnu Pradana - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 14:57 WIB
Mosquito sucking blood on a human hand
Ilustrasi DBD (Foto: thinkstock)
Bandung Barat -

Selain menghadapi pandemi COVID-19, masyarakat di Kabupaten Bandung Barat (KBB) juga patut mewaspadai ancaman penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kerap bermunculan pada musim hujan.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB, sejak Januari hingga Oktober 2021 terdapat 260 kasus DBD. Satu orang di antaranya meninggal dunia akibat terjangkit DBD tersebut.

Namun jika berkaca pada kasus DBD yang menjangkiti warga Bandung Barat tahun 2020 lalu, jumlahnya cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2020, sejak Januari hingga Desember ada 968 kasus DBD dengan tiga orang meninggal dunia. Sementara jika hanya sampai Oktober, jumlah kasusnya mencapai 868 kasus dengan tiga orang meninggal dunia.

"Untuk DBD tahun ini (2021) memang menurun dibanding tahun 2020 lalu. Tahun lalu dari Januari sampai Oktober itu ada 868 kasus dan 3 meninggal. Kalau tahun ini Januari sampai Oktober baru 260 kasus 1 meninggal," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan KBB, Nurul Rasyihan saat dihubungi detikcom, Rabu (10/11/2021).

Nurul mengatakan faktor yang menyebabkan kasus DBD pada tahun 2021 menurun ketimbang kasus tahun 2020 yakni banyaknya kasus DBD yang tidak terlaporkan ke puskesmas di setiap daerah.

"Dibandingkan dengan 2020 memang menurun, tapi faktornya itu karena ada banyak kasus yang tidak terlaporkan. Puskesmas dan rumah sakit sedang fokus vaksinasi COVID-19 jadi petugasnya banyak yg tersedot ke situ. Artinya DBD ini tidak terperhatikan pelaporannya," jelas Nurul.

Nurul mengakui jika pencegahan DBD pada masyarakat hingga saat ini belum optimal. Artinya, faktor utama menurunnya kasus DBD di Bandung Barat memang karena pelaporan yang tak optimal.

"Kasusnya kan menurun hampir sepertiga dari kasus 2020. Faktor menurun kasusnya ya cenderung karena pelaporannya saja yang enggak masuk. Pencegahan belum terlalu maksimal karena sosialisasinya sekarang ke COVID-19," kata Nurul.

Nurul mengingatkan masyarakat di Bandung Barat wajib mewaspadai potensi penularan DBD mengingat saat ini baru masuk musim hujan. Peringatan diutamakan untuk masyarakat yang ada di perkotaan.

"Jadi potensi penularannya masih sangat mungkin apalagi kan sekarang baru awal musim hujan. Di kita endemik DBD itu di Padalarang, Ngamprah, Cimareme. Kalau di wilayah selatan cenderung sedikit," tutur Nurul.

"Fogging juga meningkat permintaannya Bulan Oktober aja permintaan fogging sampai 5 kali padahal biasanya hanya 1 kali sebulan. Upaya lebih bagus itu sebetulnya PSN dan abatisasi. Cuma masyarakat lebih tenang kalau ada fogging," kata Nurul menambahkan.

Di tengah pandemi COVID-19 ini juga, masyarakat perlu lebih peka mendeteksi gejala DBD mengingat hampir sama dengan gejala pada tifus maupun COVID-19.

"Kalau bahaya sama seperti COVID-19, jadi misalnya gejala itu tersamarkan demam di atas 37 mengarahnya kan bisa ke tifus, DBD, atau COVID-19. Jadi bahayanya kalau tidak segera diperiksakan dan diagnosa itu nanti penanganan bisa terlambat," tegas Nurul.

(mud/mud)