Pemkot Cirebon Bentuk Tim Keamanan Tangkal Serangan Siber

Sudirman Wamad - detikNews
Senin, 08 Nov 2021 17:33 WIB
An illustration picture shows a projection of binary code on a man holding a laptop computer, in an office in Warsaw June 24, 2013. REUTERS/Kacper Pempel/Illustration/File Photo
Ilustrasi (Foto: Reuters/Kacper Pempel).
Cirebon -

Pemkot Cirebon, selama ini telah meluncurkan puluhan aplikasi dan pelayanan digital. Hingga Oktober 2021, Pemkot Cirebon menerima ratusan ribu serangan siber yang dapat merusak aplikasi dan mengganggu pelayanan.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon Ma'ruf Nuryasa mengaku sejak Pemkot Cirebon melakukan birokrasi berbasis digital hingga Oktober 2021 telah menerima 3.817 serangan malware, perangkat lunak yang dapat merusak sistem layaknya virus. Kemudian, menerima sebanyak 180.321 serangan denial of service, atau serangan yang mengakibatkan layanan tak tersedia.

"Kita juga menerima sebanyak 1.271 serangan trojan dan dua kali serangan web defacement (perusakan situs web). Tapi, semua itu sudah tertangani oleh Cirebon Kota-CSIRT," kata Ma'ruf dalam keterangan yang diterima detikcom, Senin (9/11/2021).

Ma'ruf menjelaskan CSIRT merupakan akronim dari computer security incident response team. Cirebonkota-CSIRT diluncurkan pada awal November. Ma'ruf menerangkan adanya CSIRT merupakan kesiapan Pemkot Cirebon dalam melawan serangan siber.

"Melindungi keamanan informasi pemerintahan dengan baik. CSIRT merupakan layanan reaktif yang terdiri dari peringatan keamanan siber, dan penanganan insiden siber," kata Ma'ruf.

Selain dua layanan utama itu, Lanjut Ma'ruf, CSIRT juga menangani kerawanan dan pemulihan sistem. Layanan siber ini berkolaborasi dengan Cirebon Siaga 112.

"Selain itu ada pula layanan proaktif lainnya berupa pemberitahuan hasil pengamatan terkait ancaman yang dapat muncul akibat perkembangan teknologi, politik, ekonomi dan pendeteksi serangan. Serta layanan peningkatan kesiapsiagaan penanganan siber yang meliputi analisis risiko dan pembangunan kesadaran dan kepedulian terhadap keamanan siber," kata Ma'ruf.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Cirebon Eti Herawati mengatakan Kota Cirebon menjadi pilot project penggunaan CSIRT. Tingginya tingkat pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi saat ini menurut Eti berbanding lurus dengan risiko dan ancaman keamanannya.

"Bahaya insiden siber selalu mengancam. Jangan sampai informasi berharga disalahgunakan," kata Eti.

"Pemkot harus menjaga kerentanan dari sebuah sistem. Cirebonkota-CSIRT juga harus mengambil peran sebagai pelaksana keamanan siber untuk pembangunan kekuatan siber di Kota Cirebon," kata Eti menambahkan.

(mso/mso)