Jabar hari ini: 8 Rute Damri Bandung Setop Beroperasi-Korupsi Dana Desa Rp 50 M

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 19:49 WIB
Perum Damri menghentikan operasi bus di Bandung mulai hari ini Kamis 28 Oktober 2021. Totalnya ada delapan rute yang berhenti operasi dan tiga rute masih beroperasi.
Bus Damri (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Sejumlah berita menyita perhatian pembaca Jabar hari ini. Mulai dari Kades di Lembang korupsi aset lahan Desa senilai Rp 50 miliar hingga 3 Rute Damri yang masih beroperasi.

Lonceng Tua di Cianjur yang Misterius

Tepat di sudut bagian utara kawasan Pendopo Cianjur, lonceng tua itu berada. Meski kerap menarik perhatian, terutama bagi mereka yang berkunjung ke pendopo ataupun Alun-alun Cianjur yang berada di seberangnya, banyak yang tak soal sejarah lonceng tua ini.

"Saya sering lihat lonceng itu, tapi tidak tahu itu lonceng apa dan bagaimana sejarahnya sehingga dipertahankan sampai sekarang. Padahal kan kawasan pendopo dan alun-alun sudah dibangun ulang tapi lonceng itu tetap dipertahankan," kata Muhammad Yusuf (27), warga Cianjur, Kamis (28/10/2021).

Sejarawan Cianjur Hendi Jo menjelaskan lonceng tua tersebut memiliki banyak fungsi pada 1900 hingga 1950. Di era Hindia Belanda, lonceng ini pernah berfungsi sebagai pemberi informasi telah terjadinya suatu peristiwa penting di Cianjur. Dalam Preanger Bode tertanggal 23 Maret 1910, dikisahkan ketika bupati terkemuka Cianjur R.Prawiradiredja II mangkat pada 17 Maret 1910, lonceng kabupaten dibunyikan beberapa kali tepat pada jam 6 pagi, disusul bunyi beduk bertalu-talu dari Masjid Agung Cianjur.

Lonceng ini juga dijadikan pengingat berlangsungnya jam malam. Seiring lonceng dipukul sembilan kali di waktu malam, maka sambil menunggang kuda, beberapa upas (petugas keamanan kabupaten) berkeliling untuk memeriksa apakah masih ada penduduk berkeliaran atau tidak.

Sedangkan pada tahun 1950, bunyi lonceng itu dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui waktu. Jumlah pukulannya disesuaikan dengan angka jam yang sedang berlangsung.

"Lonceng itu banyak dimanfaatkan sebagai penanda, baik peristiwa besar hingga penanda waktu. Hingga akhirnya sekarang dirawat dan dijadikan monumen," ujar Hendi Jo.

Hendi Jo mengatakan banyak versi yang beredar soal asal-usul lonceng kabupaten. Namun jika mengacu kepada tulisan yang tertera di kepala lonceng yakni 'BORCHHARD GEGOTEN IN T AMBAGD QWARTIR TOT BATAVIA 1774', besar kemungkinan lonceng itu dibuat di Batavia oleh Johan Christian Borchhard, perajin lonceng Eropa terkemuka pada abad ke-18. Borchhard sebenarnya berkebangsaan Jerman, namun menjelang tutup usia pada 1777, ia kerap bermukim di Enkhuizen, Belanda.

Menurut dia, Valeron Najoan, seorang penulis sejarah dan arsip-arsip tua berbahasa Belanda menyebutkan ada dua lonceng karya Borchhard yang dibuat di Batavia, khusus untuk Gubernur Jenderal VOC ke-29 Petrus Albertus van Der Parra. Lonceng pertama selesai pada 1772, sedangkan lonceng kedua rampung pada 1774.

"Jika melihat kisah tersebut, saya memiliki pendapat lonceng yang terdapat di muka pendopo Cianjur itu adalah lonceng kedua. Itu dibuktikan dengan tahun yang tertera di kepala lonceng yakni 1774," ujar Hendi Jo.

Namun, Hendi Jo mengaku masih belum mengetahui persis bagaimana lonceng tersebut bisa berada di Cianjur. Tetapi, menurut Hendi Jo, dalam buku Sejarah Cianjur karya Raden Makbul Husein dan Abdur Rauf, disebutkan bahwa lonceng itu konon dihadiahkan oleh VOC untuk Aria Waratanudatar (bupati pertama Cianjur).

Tetapi, dia menjelaskan, keterangan tersebut masih belum jelas secara historis. Sebab, Aria Wiratanudatar berkuasa jauh sebelum tahun 1774 tepatnya saat lonceng itu selesai dibuat.

"Ada selisih waktu yang cukup jauh, jika lonceng itu memang dihadiahkan sebagai bentuk kemitraan. Bupati pertama menjadi penguasa di Cianjur dari tahun 1677 hingga 1691. sedangkan lonceng selesai dibuat pada 1774," ucapnya.

Di sisi lain, Hendi Jo menuturkan, ada dua kemungkinan lonceng itu bisa disimpan di Cianjur. Yakni dihibahkan pemerintah Hindia Belanda kepada Cianjur di awal abad ke-19, sebagai simbol penghargaan, mengingat sejak awal abad ke-18 Cianjur merupakan sumber devisa terbesar bagi pemerintah Hindia Belanda pasca VOC runtuh.

Kedua, lonceng itu dihadiahkan khusus untuk Bupati Prawiradiredja II karena prestasinya yang sangat hebat dalam membangun Cianjur. Pasalnya pada 1904 ketika pemerintahan Cianjur mengadakan pesta peringatan ke-40 pemerintahan Prawiradiredja II, para pejabat dan pemuka komunitas Eropa, Tionghoa dan tokoh-tokoh bumiputera memberikan berbagai aneka hadiah menarik kala itu kepada sang bupati.

Namun begitu, ragam versi asal-usul lonceng tua di Pendopo Cianjur ini masih meninggalkan jejak misterius. "Namun pastinya soal ini (asal-usul lonceng) harus ditelisik lebih serius lagi oleh para peneliti sejarah dan para sejarawan, sehingga tidak ada lagi orang Cianjur yang tak mengetahui sejarah kotanya sendiri," kata Hendi Jo.