FAGI Minta Pemkot Bandung Tes PCR Seluruh Siswa dan Guru

Wisma Putra - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 13:10 WIB
30 orang siswa dan 3 orang guru SDN 15 Kresna, Cicendo, Kota Bandung menjalani tes PCR. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah atau klaster COVID-19 di lingkungan sekolah.
Tes PCR siswa di Kota Bandung (Foto: Wisma Putra)
Bandung -

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di 14 sekolah di Kota Bandung dihentikan sementara. Sebab, ditemukan 80 murid dan 4 guru terpapar COVID-19.

Ketua Forum Aksi Guru Indonesia Jawa Barat (FAGI Jabar) Iwan Hermawan meminta Pemkot Bandung melakukan tes PCR menyeluruh. Iwan menilai, jumlah 84 orang ini baru sampling.

"Saya minta Pemkot Bandung sungguh-sungguh tangani masalah COVID-19. Itu yang 84 baru sampel, menurut saya jumlah (kasus positif) itu (bisa) lebih banyak daripada sampel, pertanyaan saya bagaimana siswa yang tidak di tes. Sampel itu kan 30 siswa 1 guru dan 2 tata usaha, berarti selain yang dijadikan sampel kemungkinan besar ada yang kena juga tapi tidak dijadikan sampel PCR," kata Iwan via sambungan telepon, Senin (25/10/2021).

Ia menduga masih banyak lagi peserta didik dan guru yang juga terpapar tapi luput dari tes PCR.

"Sekolah yang tidak dijadikan sampel bukan berarti tidak ada yang terpapar, bisa jadi malah banyak. Oleh karena itu FAGI minta kepada Dinkes dan Disdik lebih luas lagi melakukan tes PCR," tambahnya.

80 siswa dan 4 guru yang positif COVID-19 ini hasil tes acak yang dilakukan sebanyak 2.511 sampel dan masih menunggu hasil sekitar 864.

"Inikan tahap satu, tahap dua dilanjutkan harus lebih luas lagi," ujarnya.

Iwan sepakat, PJJ kembali dilakukan untuk sekolah yang ditemukan kasus positif. Namun Iwan ingin, tolak ukur nya jangan sampai 5 persen, walaupun ditemukan satu kasus sekolah harus dihentikan PTMT nya selama 14 hari.

"Saya sepakat sesuai dengan yang disampaikan Sekda Kota Bandung, jika ada yang terpapar kembali ke PJJ. Saya tidak sepakat dalam aturan 5 persen, 1-2 orang pun jika terpapar dibiarkan bisa menyebar ke siswa lainnya, apalagi siswa sudah berinteraksi, ada 1 atau 2 tutup 14 hari demi keamanan sekolah," jelasnya.

Iwan menilai, siswa atau guru yang terpapar COVID-19 bisa saja terjadi di sekolah atau di perjalanan dari rumah ke sekolah, bahkan di lingkungan rumahnya.

"Yang namanya terpapar bisa saja di sekolah, karena ada keterkaitan antar siswa. Nisa terjadi di perjalanan antara sekolah dan rumah atau nenang anak kuliah di luar pantauan guru dan orang tua atau di tempat lain, saya coba pantau tempat wisata nyaris enggak ada COVID-19, berkumpul dan tidak pakai masker kemarin ke daerah Ciwidey, ini seakan-akan COVID-19 sudah selesai kalau pantau ke tempat wisata," ungkapnya.

Selain diperluas, Iwan juga minta Satpol PP agar membubarkan siswa yang berkumpul sepulang sekolah di taman-taman di Kota Bandung.

"Diperluas lagi, lebih ditekankan lagi sekolah lakukan prokes yang ketat. Saya mohon juga Satpol PP tegas, saya lihat di tempat umum masih banyak siswa yang berkumpul, tegas saja kalau ada pelajar yang berkumpul, bergelombang di tempat umum suruh pulang aja ke rumah," pungkasnya.

(wip/mud)