Hari Santri

Ponpes Alam Maroko Bandung Barat, Wadah Santri yang Ingin Jadi Hafiz

Whisnu Pradana - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 10:52 WIB
Ponpes Alam Maroko
Foto: Ponpes Alam Maroko (Whisnu Pradana/detikcom).
Bandung Barat -

Kehadiran pondok pesantren (ponpes) di suatu daerah tentunya selaras dengan keinginan orang-orang di sekelilingnya terkena pengaruh positif untuk kian mengentalkan nilai keagamaan yang diimplementasikan dalam keseharian.

Tak jarang pula, pesantren dijadikan sebagai tujuan orang tua dan masyarakat pada umumnya entah yang masih berpikiran konvensional bahkan yang moderat sekalipun, sebagai pembentuk karakter baik dan sarat khitoh keislaman bagi keturunannya.

Hal itu pula lah yang mendasari lahirnya Pondok Pesantren Alam Maroko pada tahun 2018 lalu. Pondok pesantren tahfidz Quran itu ada di Kampung Maroko, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

"Ini bentuk sodaqoh saya dan keluarga yang langsung menyalurkannya dalam bentuk pondok pesantren. Awalnya hanya untuk anak-anak angkat saya sendiri saja, tapi ternyata banyak juga peminatnya," ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Alam Maroko Dadang Budiman belum lama ini.

Di pondok pesantren tersebut, kini bernaung sebanyak 80 santri putra dan putri yang bercita-cita ingin menjadi penghafal Quran. Baik yang memang mendapatkan dorongan dari orang tuanya maupun karena keinginan sendiri.

Di balik ramainya peminat lembaga pendidikan tahfiz Quran di pelosok Bandung Barat itu, Dadang mulai menerima lebih banyak santri. Namun prioritasnya yakni santri yang kurang mampu, hingga yang sudah tak memiliki orang tua.

Apalagi banyak ayat Al-Quran yang memang memerintahkan agar memuliakan anak yatim dan piatu, apalagi yatim piatu supaya mereka terhindar dari kesusahan. Ditambah pesan UU Dasar 1945, yang juga mengharuskan setiap anak mengenyam pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Alhamdulillah mayoritas santri di sini memang yang kurang beruntung, banyak yang orangtuanya sudah tidak ada. Kalau yang murni yatim piatu itu sekitar 10 orang. Ada juga warga sekitar dan dari luar daerah yang kurang mampu tapi ingin anaknya jadi hafiz Quran," kata Dadang.

Ponpes Alam Maroko sejak awal tak memungut biaya sepeserpun pada santri maupun keluarganya. Lantaran sejak awal memang pesantren tersebut didirikan dengan niatan membantu sesama.

"Untuk biaya semuanya ditanggung, tapi memang ada sebagian anggota keluarga santri yang keukeuh memberikan sumbangan materi itupun tidak kami paksa, tidak ditentukan, jadi seikhlasnya," jelas Dadang.

Bangunan ponpes yang terletak di pinggir aliran Sungai Citarum itu dibangun dengan sederhana. Bukan menggunakan semen dan batu bata, namun semua bangunan menggunakan material bambu yang disusun sedemikian rupa.

Ada beberapa pondokan yang berdiri sebagai tempat berlindung santri putra dan putri dari panas terik matahari dan dinginnya hujan serta udara malam. Tak jauh dari situ, ada musola yang ukurannya tak terlalu besar dan difungsikan sebagai tempat berkegiatan santri putra. Sementara santri putri memiliki tempat terpisah.

"Untuk pengajar di sini ada sekitar 8 orang. Tapi mereka dibantu oleh santri kita yang sudah lulus karena sudah menghafal 30 juz. Jadi santri yang sudah lulus sebagiannya melakukan pengabdian di pesantren inu mengajar dulu adik-adiknya," jelas Dadang.

Tiga tahun berselang, sudah ada dua angkatan yang lulus dan menjadi hafidz atau penghafal Quran. Total ada sekitar 20-an santri yang telah menghafal 30 juz. "Nanti 13 November itu akan ada wisuda untuk gelombang ketiga, sekitar 10 orang lagi yang sudah hafal 30 juz," kata Dadang.

Punya Unit Usaha Ternak Domba Aqiqah

Pondok Pesantren Alam Maroko yang memiliki 80 santri putra dan putri tak cuma memberikan pelajaran agama dan kegiatan menghafal Al Quran saja. Di balik itu, mereka juga membekali santri dengan keterampilan dalam bidang ekonomi, seperti ternak domba sebagai unit usaha.

Ternak domba yang mereka lakoni yakni domba untuk aqiqah. Unit usaha itu selain memberikan keterampilan usaha pada santri juga sebagai permodalan mandiri untuk tetap menjalankan roda ekonomi pesantren yang memiliki santri mayoritas dari kalangan kurang mampu dan yatim piatu.

Setiap orang yang hendak melaksanakan aqiqah untuk putra dan putrinya, bisa memanfaatkan jasa yang ditawarkan Ponpes Alam Maroko. Sebab di balik itu semua, kita turut membantu keberlangsungan hidup para santri yang sedang berproses menjadi seorang penghafal Quran.

"Jadi unit usaha yang sedang dirintis itu ternak domba untuk aqiqah. Kemarin ada beberapa yang aqiqah dan dombanya dari kita," kata Dadang Budiman, pengelola Ponpes Alam Maroko.

Unit usaha yang dijalankan juga sebagai tanda bahwa ponpes tersebut tak mau menggantungkan diri pada donatur dan sokongan dana pihak lain. Dalam prosesnya, ternak domba yang dijalankan juga sebagai pembekalan pada santri saat kembali pada masyarakat.

"Kalau untuk dukungan sebetulnya ada dari donatur dan pihak lain yang memang ingi membantu santri-santri kita. Tapi kita juga ingin santri kemudian mandiri," tutur Dadang.

Simak juga 'Top! Minuman Herbal Buatan Santri di Garut Tembus Pasar Internasional':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)