Menengok Lokalisasi Seer di Karawang yang Pernah Hits

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Sabtu, 23 Okt 2021 10:10 WIB
Lokalisasi Seer di Karawang yang kini tutup
Foto: Yuda Febrian Silitonga

Puluhan Kali Dirazia dan Digusur

Bagai jamur di musim semi, lokalisasi Seer masih tumbuh meski sudah beberapa kali digusur, diratakan dan bahkan dibakar.

"Sudah puluhan kali razia, dan beberapa kali digusur, terus diratakan gubuknya sama Beko, terus dibakar tapi tetap bangun lagi sampai saat ini meski sudah mulai mati suri," ujar pria berjenggot putih ini.

Ia mengakui juga, para pramuria yang datang menghuni lokalisasi ini mayoritas dari luar Karawang.

"Di sini rata-rata bukan asli orang Karawang, kebanyak dari luar seperti Indramayu dan Subang, dan mereka datang dengan sendirinya," ungkapnya.

Keberadaan gubuk juga dikatakannya hanya menjadi tempat untuk memuaskan hasrat dan para pramurianya tidak semuanya menetap.

"Paling yang menetap itu bisa dihitung jari, karena tidak semua menetap, dan gubuknya cuma buat 'maen' aja!" Katanya.

Setelah aturan dari PT KAI lokalisasi Seer mulai mati suri. Akibat pemagaran juga pembersihan wilayah PT KAI dari keberadaan pemukiman kumuh.

"Jadi saat PT KAI menerapkan kebijakan penertiban pemukiman kumuh di sekitaran stasiun Karawang, dan pemagaran di sepanjang wilayah kawasan stasiun, kehidupan di Seer seakan mati suri, satu persatu penghuni mulai berpindah, dan pengunjung mulai jarang ada karena jalan masuknya sudah ditutup jadi parkiran rumah sakit Dewi Sri," terangnya.

Adapun jalan menuju ke lokalisasi harus masuk melalui jalan masuk stasiun Karawang, ataupun menyebrang jalur kereta api.

"Jadi sekarang pintu masuknya harus dari stasiun Karawang, dan tidak ada pilihan lain, kalaupun mau harus jalan kaki menyebrang rel dari arah Utara," ucapnya.

Dari aturan tersebut para pedagang kopi seperti Abah Kondor terkena imbasnya, hingga akhirnya bangkrut dan tidak berjualan lagi.

"Sekarang saya menganggur, tapi Alhamdulillah anak sudah menikah semua dan bekerja, paling kegiatan hanya nongkrong di sini menghabiskan sisa waktu bersama Seer ini," katanya.

Di akhir wawancara, Abah Kondor berharap wilayah Seer ini bisa dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi kawasan yang lebih manusiawi dan para penghuninya bisa diperdayakan.

"Saya hanya berharap ke depannya lokasi ini yang lahannya lumayan cukup luas ini bisa dikembangkan dan dimanfaatkan lebih manusiawi karena lokasi ini tepat berada di pusat kota, dan para penghuninya bukan diusir tapi diperdayakan," tandasnya.


(ern/ern)