Menengok Lokalisasi Seer di Karawang yang Pernah Hits

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Sabtu, 23 Okt 2021 10:10 WIB
Lokalisasi Seer di Karawang yang kini tutup
Foto: Yuda Febrian Silitonga
Karawang -

Laki-laki paruh baya tengah duduk di pelataran gubuk kayu. Sementara pandang matanya seolah mempertanyakan kepada nasib, apakah bertahan di antara besi tua bekas rel kereta ataukah menyerah dan pulang ke rumah.

"Kondisi saat ini tidak seperti dulu lagi," begitulah ungkapan yang terlontar dari Nedi Junaedi (71) alias Abah Kondor sesepuh para penghuni lokalisasi Seer yang melegenda di Karawang.

Bagi warga Karawang, kawasan Seer tidak asing lagi terdengar di telinga. Dikenal sebagai lokalisasi kelas bawah yang berlokasi di lahan kawasan stasiun Karawang atau tepatnya di tengah pusat kota Karawang dan menjadi langganan penertiban Satpol PP juga ormas keagamaan karena disebut sarang kemaksiatan. Namun bagi Abah Kondor lokalisasi Seer bukan sekadar tempat kemaksiatan melainkan tempat perjuangan warga dalam mencari rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarga.

"Memang tempat ini sudah dikenal sarangnya kemaksiatan, mesum dan lain-lain. Tetapi bagi penghuni di sini, tempat ini menjadi pilihan terakhir untuk beradu nasib mencari rezeki," ungkap pria yang pernah bekerja menjadi mantri pasar di Karawang.

Lokalisasi Seer di Karawang yang kini tutupAbah Kondor di lokalisasi Seer di Karawang yang kini tutup Foto: Yuda Febrian Silitonga

Asal Usul Lokalisasi Seer

Kepada Detikcom, Abah Kondor mengisahkan nama Seer tercipta pada tahun 70-an dari gerbong kereta yang terparkir.

"Dulu di sini pada tahun 70'an tempat parkirnya kereta gerobak pengangkut barang, yang pintunya bisa digeser di dua sisi dan gerbongnya itu ada nomor serinya 'SR' dan jadi sebutan bagi penghuninya," katanya.

Sebelum sebutan Seer disematkan, kata Abah Kondor, para penghuni yang kebanyakan dari golongan gelandangan dan pengemis sudah menempati lokasi ini sejak awal.

"Jadi dulu juga udah banyak penghuninya tapi kebanyakan gelandangan dan pengemis dari daerah luar Karawang, dan terkadang tidur di dalam gerbong keretanya juga," ujarnya.

Seiring banyaknya pendatang dari luar Karawang, praktik prostitusi akhirnya tumbuh. Tempat yang dulunya parkir kereta berubah menjadi lokalisasi.

"Jadi dulu itu banyak perempuan yang menjajakan diri pakai samping (kain yang biasanya bercorak batik) duduk di depan gubuk yang mulai banyak dibuat dan kalau sekarang sudah tidak pakai samping lagi," terangnya.

Pada Tahun 2000-an, Abah Kondor membuat warung kopi di lokalisasi tersebut. Ia juga mengaku menjual minuman keras.

"Dulu kalau tidak salah tahun dua ribuan Abah buka warung kopi dan juga jual arak, anggur dan bir, lumayan dapat untung banyak. Tapi kalau sekarang sekadar warung kopi itupun sudah jarang ada yang beli karena sepi," kata pria yang memiliki 8 anak ini.

Tempat esek-esek Seer juga dikenal sebagai lokalisasi dari kalangan kelas bawah karena tarif dan tempat.

"Karena memang harganya murah dan juga tempatnya cuma pakai gubuk triplek jadi dikenal memang sebagai lokalisasi kelas bawah," terangnya.

Lantas bagaimana ceritanya lokalisasi yang legend ini akhirnya tutup? Simak kisahnya di halaman berikutnya

Simak juga Video: Jangkau Daerah Terpencil di Karawang, 1.000 Vaksin Dibawa Pakai Motor

[Gambas:Video 20detik]