Lawan Mager dengan Aksi Budikdamber

Baban Gandapurnama - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 10:25 WIB
Budikdamber di Bandung
Warga Gang Tanjung, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, melakoni budi daya ikan dalam ember atau budikdamber. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)
Bandung -

"Budi daya ikan tawar itu nggak ribet sebenarnya. Terpenting itu rajin dan nggak malas. Kalau malas dan nggak mau gerak, ya nggak akan berhasil," ujar Rurri Iswantara.

Ucapan lelaki tersebut melecut semangat warga untuk melawan malas gerak atau mager dengan cara aktif beternak ikan. Rurri dan sejumlah tetangganya melakoni aksi nyata membudidayakan ikan dalam ember (budikdamber) dan kolam terpal.

Lele dipilih sebagai jalan awal yang kelak memacu warga mempraktikkan budikdamber secara serempak. "Kami menyeriusi dan menggencarkan gerakannya. Sebab, budi daya ikan ini sangat potensial. Saya sudah berkoordinasi dengan para RT di sini. Misinya merambah ke warga lain untuk serius budi daya ikan lele, medianya bisa ember atau terpal," ucap Rurri.

Rurri berdomisili di Gang Tanjung, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat. Dia menjabat Ketua RW 5. Tugasnya mengomando 10 RT dan mengurusi 4.000 jiwa.

Di RW 5 ini tercatat tiga orang membudidayakan ikan. Dua budikdamber dan satu kolam terpal. Rurri salah satunya yang menyulap lahan atas rumahnya untuk budi daya dan pembesaran ikan tawar menggunakan dua kolam terpal beralas kayu masing-masing berukuran 2 x 1 meter.

"Selain itu, rencananya area bagian atas masjid difungsikan untuk budikdamber dan kolam terpal. Konsepnya swadaya," kata dia.

Budikdamber di BandungBudi daya dalam kolam terpal yang dilakukan warga di Gang Tanjung, Bojongloa Kaler, Kota Bandung. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)

Gang-gang sempit membelah barisan hunian warga yang tembok rumahnya saling berdempetan. Kampung padat penduduk ini berada di seberang mal Festival Citylink.

Rurri mengajak detikcom menengok aktivitas budikdamber jenis lele yang digeluti warganya. Menelusuri gang berdinding mural, langkahnya berhenti di salah satu rumah sederhana. Rurri memperkenalkan seorang pria bernama Budi Mutakin.

Jelang tengah siang, Selasa 19 Oktober 2021, Budi asyik membersihkan ember isi ikan lele. Tangan kanannya mencengkeram jaring ke dalam salah satu ember. Seekor lele terjaring.

"Lele paling gede di ember ini berukuran 40 sentimeter," ucap lelaki berusia 66 tahun tersebut.

Enam ember berukuran 80 liter berjejer di depan rumahnya. Budi menempatkan ember isi lele yang nyaris menutup akses menuju tempat tinggalnya.

Budikdamber di BandungWarga Gang Tanjung, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, melakoni budi daya ikan dalam ember atau budikdamber. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)

Tujuh bulan menekuni budikdamber, dia mengklaim tanpa hambatan. "Budikdamber ini ngurusnya gampang," ucapnya.

"Sehari dua kali lele ini dikasih makan. Jadwalnya pagi dan sore. Sebulan sekali ganti air. Supaya air tidak bau, saya simpan daun pepaya di dalam embernya," tutur Budi menambahkan.

Tidak memiliki pengalaman dan wawasan pembudidayaan lele, bukan berarti semangat Budi pudar. Kali pertama ini dia terjun langsung mengawal budikdamber. Awalnya Budi sopir pribadi yang berhenti kerja lantaran sang majikan tutup usia.

Ide budikdamber itu tercetus berkat arahan Ketua RT 2 Irmansyah Sanusi. "Ini baru pertama budi daya lele. Ketimbang nganggur, sudah saja budikdamber. Idenya dari pak Irmansyah. Dia kasih ember dan benih lele. Lalu belajar sendiri setelah diberi tahu pak RT dan nonton (tutorial budikdamber) di YouTube," ucap Budi.

Sebanyak 60 ekor benih lele berukuran delapan sentimeter disimpannya ke dalam enam ember. Tiga bulan berikutnya, Budi girang bukan kepalang. Kegigihannya ternak lele tak sia-sia.

"Alhamdulillah, berhasil dan panen lele. Ukuran lelenya yang 20 hingga 25 sentimeter," ujar Budi tersenyum.

Budikdamber di BandungWarga memperlihatkan lele hasil budikdamber. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)

Ketua RT 2 Irmansyah Sanusi turut gembira atas keseriusan warganya berkegiatan budikdamber. "Selama tujuh bulan ini sudah tiga kali panen. Modal awalnya hanya 600 ribu rupiah," kata Irmansyah.

Budikdamber ini merupakan proyek percontohan di wilayahnya. Hal tersebut berkaitan upaya membangkitkan perekonomian, kesejahteraan dan ketahanan pangan di tengah pandemi COVID-19.

Menurut dia, budikdamber salah satu solusi yang mudah dan murah untuk membangkitkan warga terdampak pagebluk. Irmansyah bersama para ketua RT di lingkungan RW 5 tengah menyusun strategi memperbanyak budikdamber di kampung Tanjung.

Sejauh ini, hasil panen lele sistem budikdamber tidak dijual secara luas. Irmansyah memprioritaskan untuk warga setempat.

"Hasil panen lele ini dari warga untuk warga. Kalau pas panen, saya informasikan lewat WA (WhatsApp) grup. Warga membeli lele seharga 20 ribu rupiah per kilogram. Pernah waktu itu, sisa panen sebanyak 20 kilogram diborong atau dibeli bu lurah," tutur Irmansyah semringah.