Hari Santri, Ridwan Kamil Ingatkan Ideologi yang Ancam Pancasila

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 10:16 WIB
Ridwan Kamil di hari santri
Foto: Yudha Maulana
Bandung -

Peringatan hari Santri 2021 Jawa Barat dilaksanakan di Lapangan Gasibu, Kota Bandung pada Jumat (22/10/2021). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan tantangan santri saat ini adalah bisa melawan ideologi-ideologi yang mengancam keberadaan Pancasila.

"Hari ini santri harus siaga jiwa raga yang pertama, dulu yang pertama kali melawan penjajah di daerah itu santri. Sekarang santri harus kuat melawan ideologi-ideologi yang mengancam Pancasila, yang mengancam nilai-nilai (Pancasila)," ujar Ridwan Kamil.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Emil itu, kiai dan santri dari Jawa Barat pada zaman penjajahan juga berada di garda terdepan dalam membela negeri. Bahkan, salah satu anggota keluarga dari Kang Emil pun gugur dalam perang melawan Belanda di Ujungberung Bandung.

"Pada saat TNI-Polri belum hadir, sejarah kiai dan santri lah yang terdepan dalam membela, melawan penjajah," tutur Kang Emil.

Santri, kata Kang Emil juga harus menjadi barisan terdepan dalam meluruskan isu-isu yang mengancam NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, baik secara langsung maupun lewat media sosial.

"Para santri harus terdepan untuk meluruskan, yang kedua siaga jiwa raga artinya para santri juga hraus menjadi teladan dalam melawan pandemi COVID-19. melalui keteladanan dalam proses pelayanan dalam menyukseskan vaksinasi agar kita kembali bisa normal," katanya.

Perda Pesantren

Dalam kesempatan yang sama, pria yang akrab disapa Kang Emil itu juga mengatakan, Jawa Barat menjadi satu-satunya provinsi yang memiliki Perda Pesantren yang mengatur tentang penyelenggaraan pesantren.

Ada tiga fokus bantuan untuk ponpes sesuai Perda Pesantren. Pertama, hak menerima anggaran, hak mendapatkan pembinaan, serta hak menerima pemberdayaan dari pihak pemerintah.

"Kami juga diskusi berjilid-jilid dengan para kiai, ustaz sehingga pada saat lahirnya (Perda Pesantren), tidak ada yang tidak paham. Tidak ada yang tidak tahu, karena proses melahirkannya saja itu bentuk sosialisasi," kata Kang Emil.

Salah satu program yang mendukung kegiatan pesantren, kata Kang Emil adalah One Pesantren One Product (OPOP) yang dimana tiap pesantren dibina untuk melahirkan suatu produk yang dapat mensejahterakan pesantren dan santrinya.

"Itu dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga ingin belajar dari Jawa Barat," pungkasnya.

(yum/ern)