Sidang Korupsi KONI Tangsel, Uang Pembinaan Dipakai Pelesiran ke Singapura

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 17:25 WIB
Sidang korupsi KONI Tangsel.
Foto: Sidang korupsi KONI Tangsel (Bahtiar Rifa'i/detikcom).
Serang -

Dana hibah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tangsel senilai Rp 7,8 miliar tahun 2019 yang dikorupsi digunakan pelesiran ke Singapura oleh pengurus. Mereka pergi berlibur setelah melakukan kunjungan kerja ke Batam.

Terdakwa untuk kasus ini adalah Ketua KONI Tangsel Rita Juwita dan bendaharanya Suharyo. Sidang hari ini, Kamis (21/10/2021) menghadirkan lima orang saksi dari pengurus KONI, yakni Tuty Sutiah Indra selaku Wakil Sekretaris 3, Wakil Sekretaris 1 Birman Aria Teja, Wakil Sekretaris 2 Achmad Mooduto, Bendahara 1 Dadi Kusnadi, Bendahara 2 Landung Mintoharjo.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Atep Sopandi, saksi Tuty mengatakan perjalanan ke Batam dilakukan pada 4 hingga 6 Oktober. Kegiatan dalam rangka kunjungan kerja dan diterima Sekda dan pengurus KONI Batam.

Di sana, para pengurus belajar soal pembinaan atlet. Tapi, di hari ketiga mereka jalan-jalan ke Singapura.

"Iya jalan-jalan, saya ikut," kata Tuty di Pengadilan Tipikor Serang.

Saksi Dadi juga mengakui bahwa ikut kegiatan ke Batam dan pelesiran di Singapura. Katanya, ada beberapa pengurus yang ke sana dengan alasan refreshing.

"Ikut, refreshing aja. Saya lupa berapa orangnya," kata Dadi.

Dadi mengatakan, awalnya KONI Tangsel di 2019 mengajukan hibah Rp 23 miliar. Tapi, yang disetujui adalah Rp 7,8 miliar. Kegiatan ke Singapura katanya memang tidak ada dalam program.

"Tidak, tidak ada di program," ujarnya.

Tapi, kegiatan kunjungan kerja itu kata saksi Landung tidak semua diikuti oleh pengurus KONI. Ia jadi salah satu yang tidak ikut ke Batam tapi tanda tangannya dipalsukan di laporan pertanggung jawaban KONI.

"Saya sama sekali tidak ikut. Waktu diperiksa di kejaksaan, loh apaan ini kok tanda tangan aku dipalsuain semua," ujarnya.

Sebagai wakil bendahara, ia mengaku tidak dilibatkan aktif di kepengurusan KONI. Sejak jadi pengurus, terdakwa katanya membawa 9 orang koleganya sebagai pengurus. Pengurus lama, jarang dilibatkan.

Saksi ini juga protes karena selama terlibat di KONI sebetulnya tidak ada di juklak dan dan juknis untuk kunjungan kerja. Pengurusan KONI saat dipegang terdakwa katanya bisa setiap bulan kunjungan kerja.

"Kunker paling sekali, kalau kunjungan 11 kali, kalah dewan. Ini setiap bulan kunker, kunker kok tiap bulan," ujarnya.

Terdakwa Rita dan Suharyo didakwa telah melakukan korupsi anggaran KONI Rp 7,8 miliar. Ada 19 kegiatan yang oleh jaksa dinilai menyimpang. Termasuk laporan pertanggungjawaban anggaran oleh pengurus KONI. Salah satunya adalah kunjungan kerja ke 11 daerah di Jawa Barat seperti Cianjur, Sukabumi, Bandung Barat, Cirebon, Bandung, Tasikmalaya yang fiktif.

Simak juga 'KPK Tetapkan 1 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Bengkalis':

[Gambas:Video 20detik]



(bri/mso)