68% Warga Masuk Data Penerima Bansos, Ini Kata Pemkab Cianjur

Ismet Selamet - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 15:33 WIB
Potret warga miskin di Kabupaten Cianjur, tinggal satu atap dengan kandang kambing.
Foto: Potret warga miskin di Kabupaten Cianjur, tinggal satu atap dengan kandang kambing (Ismet Selamet/detikcom).
Cianjur -

Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cianjur, mencatat sebanyak 1.541.424 warga Cianjur masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau penerima bantuan sosial. Namun Pemerintah Kabupaten Cianjur menolak jika banyak warga Cianjur miskin, meski angka DTKS mencapai 68 persen dari jumlah penduduk.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Asep Suparman mengatakan jumlah warga yang masuk DTKS di tahun ini mengalami lonjakan dari sebelumnya DTKS hanya di angka 900 ribu jiwa. Namun, dari data terbaru angkanya langsung melonjak menjadi 1.541.424 jiwa

Jika dibandingkan dengan data jumlah penduduk di Kabupaten Cianjur, berdasarkan cianjurkab.bps.go.id tercatat penduduk Canjur mencapai 2.243.904 dan sebanyak 1.541.424 jiwa masuk ke dalam DTKS.

"Jumlahnya memang jadi banyak, yang masuk DTKS mencapai 1,5 juta jiwa atau 68 persen dari total penduduk Cianjur," kata dia, Jumat (15/10/2021).

Namun Asep menolak jika dengan data tersebut, angka kemiskinan di Cianjur disebut naik signifikan. Menurutnya penambahan tersebut disebabkan banyaknya penerima bantuan sosial selama pandemi COVID-19.

"Bukan karena warga miskinnya jadi banyak, tapi banyak penerima bantuan selama pandemi COVID-19. Mereka yang menerima bantuan kan harus dimasukan dalam DTKS," tuturnya.

"Misalnya buruh dapat bantuan dari pusat, datanya masuk ke DTKS. Ada juga yang sebenarnya tidak dalam kategori miskin tapi terdampak pandemi, sehingga menerima bantuan sosial, itu juga dimasukkan ke DTKS. Makanya angkanya jadi tinggi," ucapnya.

Asep mengatakan pihaknya akan kembali memverifikasi data tersebut untuk memastikan mana saja masyarakat tidak mampu yang layak masuk DTKS dan menerima bantuan sosial.

"Kita verifikasi lagi datanya, disaring lagi untuk memastikan mana yang memang kondisinya tidak mampu. Jadi data tersebut akan dengan sendirinya berkurang setelah pandemi selesai," ujarnya.

(mso/mso)