7.200 Anak di Jabar Jadi Yatim Piatu Akibat Corona, Pemprov Siapkan Bantuan

Yudha Maulana - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 12:39 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom).
Bandung -

7.200-an anak di Jawa Barat (Jabar) harus kehilangan orang tua akibat COVID-19. Pemprov Jabar pun bergerak untuk memberikan santunan dan pendampingan baik jangka pendek maupun jangka panjang kepada anak-anak tersebut.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jabar Dodo Suhendar mengatakan saat ini proses verifikasi dan validasi masih terus dilakukan. Menurutnya dari 7.200-an anak yang dilaporkan kehilangan orang tua karena COVID-19, baru sekitar 2.500 anak yang telah selesai cleansing datanya.

Dodo mengatakan pendampingan dan pemberian santunan akan diberikan secara proporsional kepada setiap anak yang menjadi yatim, piatu atau yatim piatu. Istri yang ditinggal mati suaminya karena COVID-19 juga tak luput pendampingan untuk pemberdayaan kemandirian.

"Data yang kita terima kita asesmen berdasarkan kebutuhan. Karena misal ada anak yang berasal dari keluarga mampu, tetapi tetap dia butuh pendampingan psikososial dari psikolog. Ada yang ke pola asuh, dan ada yang ke pola asuh dan ekonomi dan keseluruhan," kata Dodo di Taman Museum Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (27/9/2021).

Bantuan jangka pendek akan diberikan berupa uang tunai senilai Rp 300 ribu per orang. Dinsos juga mendapatkan bantuan berupa 2.500 pasang sepatu dan sembako dari berbagai lembaga kemanusiaan dan filantropi untuk disalurkan kepada anak-anak korban COVID-19 tersebut.

"Bantuannya jangka panjangnya seperti pendidikan. Bagi anak yang berprestasi ada program Jabar Future Leaders," tutur Dodo.

Ketua TP-PKK Jawa Barat Atalia Praratya Kamil mengatakan meski proses cleansing data masih berjalan tetapi pemberian santunan tetap harus diberikan. Ia pun mengingatkan, bahwa pengasuhan anak-anak korban COVID-19 bisa dilakukan siapa saja.

"Prinsipnya semua bisa menjadi wali asuh tapi disesuaikan dengan kondisi keluarga. Intinya bagaimana orang-orang di sekeliling bisa membantu, tapi memang ada kasus di mana tetangganya tidak bisa membantu karena mereka juga sedang kesulitan," kata Atalia.

Oleh karena itu, Pemprov Jabar menggandeng sejumlah pihak salah satunya Forum Zakat (FOZ) dan Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) untuk membantu anak-anak tersebut.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jabar I Gusti Agung Kim Wiayata Oka mengatakan data anak yatim yang dihimpun masih terus bergerak.

"Yang jelas anak harus mendapatkan pengasuhan yang baik, dinsos saat ini masih terus melakukan identifikasi karena kebutuhan dari anak-anak ini berbeda-beda misal antara yang SD dengan SMA, ada kebutuhan yang spesifik," ujar Agung.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum tengah mengusulkan agar ada hari anak yatim nasional tiap 10 Muharram. "Kami sedang berusaha mendorong pemerintah pusat terkait Hari Nasional Anak Yatim, dan momentum itu agar pemberian bantuan kepada anak yatim bisa dilakukan secara negara," kata Uu.

(yum/mso)