Rangsang Inovasi Mahasiswa, MIKTI Gagas Startup Merdeka

Wisma Putra - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 21:47 WIB
BERLIN, GERMANY - SEPTEMBER 19:  A shopper ltries out the new Apple iPhone 6 at the Apple Store on the first day of sales of the new phone in Germany on September 19, 2014 in Berlin, Germany. Hundreds of people had waited in a line that went around the block through the night in order to be among the first people to buy the new smartphone, which comes in two versions: the Apple iPhone 6 and the somewhat larger Apple iPhone 6 Plus.  (Photo by Sean Gallup/Getty Images)
Ilustrasi (Foto: GettyImages)
Bandung -

Inovasi menjadi kata kunci dalam mengembangkan industri digital yang saat ini semakin luas. Talenta-talenta muda yang akan membangun karier profesional di bidang tersebut perlu diasah agar semakin inovatif dan menghasilkan solusi teknologi yang dibutuhkan masyarakat.

Hal ini mendasari Masyarakat Industri Kreatif Digital Indonesia (MIKTI) dalam merancang 'Startup Merdeka'. Program berformat studi independen bersertifikat ini dirancang untuk memandu mahasiswa mempraktikan secara langsung berbagai metode dalam proses pengembangan produk berbasis inovasi teknologi mulai dari tahap validasi permasalahan, rumusan ide solusi, validasi target pasar dan pengembangan prototipe produk versi awal.

Ketua Umum MIKTI Joddy Hernady mengatakan, di tengah pesatnya perkembangan industri berbasis inovasi teknologi saat ini, kampus memiliki
peran yang semakin signifikan. Kampus berperan dalam melahirkan perintis usaha (startup founder) yang andal dalam menghadirkan solusi teknologi yang berdampak luas bagi masyarakat.

"Berbagai usaha rintisan digital lokal yang menjelma menjadi raksasa teknologi seperti Gojek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka tak lepas dari kehadiran talenta-talenta yang kompeten dari bangku kuliah," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (23/9).

Namun, menurutnya para generasi penerus tersebut harus terus berinovasi agar peluang semakin terbuka.

"Karena itulah pengenalan metode pengembangan inovasi sedini mungkin mutlak diperlukan agar lulusan kampus dapat lebih siap terjun ke industri, baik
sebagai profesional maupun wirausahawan," ungkapnya.

Joddy optimistis program 'Startup Merdeka' mampu merangsang mahasiswa untuk terus berinovasi. Program yang didukung ZTE ini menggunakan platform khusus inipun sejalan dengan hadirnya kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

"Startup Merdeka ini akan memfasilitasi mahasiswa untuk mempelajari sejumlah metodologi inovasi yang sudah diterapkan secara luas di tingkat global," tuturnya.

Nantinya dalam program berdurasi 14-16 pekan (20 SKS) ini peserta akan didampingi langsung oleh para mentor yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di berbagai bidang startup dan proses inovasi berbasis teknologi. Startup Merdeka akan memfasilitasi mahasiswa sebagai calon pendiri startup untuk memulai langkah lebih dini sejak bangku kuliah.

Saat ini, menurutnya terdapat 110 mahasiswa yang siap memulai perjalanannya sebagai startup founder maupun profesional di industri inovatif yang berasal dari berbagai daerah mulai dari Aceh hingga Sulawesi.

"Saat kick off program ini secara virtual (Rabu, 15 September), dihadiri oleh seluruh peserta, dosen perwakilan dari perguruan tinggi peserta berasal, serta MIKTI selaku pengelola program dan ZTE selaku sponsor program," ujarnya.

Pada acara tersebut juga diselenggarakan sesi kuliah umum mengenai "Mentalitas Founder"
oleh Hari S. Sungkari, seorang digital preneur dan mentor yang juga merupakan Deputi BEKRAF dan Kemenparekraf periode 2015-2021. Dalam paparannya, Hari menjelaskan, wirausahawan tidak dibangun dalam satu dua hari saja.

"Semuanya butuh proses, apalagi usia mahasiswa masih muda. Ini merupakan kesempatan emas untuk sebanyak
mungkin belajar, sebanyak mungkin mencoba, menjalani berbagai proses," tutur Hari.

Saat ini, menurutnya banyak sekali program dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk menjadi seorang pendiri startup. Ekosistem dan teknologi saat ini sangat mendukung, tinggal dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Pada saat proses pendanaan, menurutnya Venture Capital akan melihat karakter dari founders, karena itu modal terbesar dari sebuah startup adalah Founder Character. Program Startup Merdeka juga disambut baik oleh berbagai kampus perguruan tinggi.

Sejumlah perguruan tinggi mengharapkan kerjasama berkelanjutan dengan MIKTI untuk dapat lebih
mengembangkan program sejenis di kampusnya sehingga dapat memfasilitasi lebih banyak mahasiswa yang tertarik pada bidang inovasi teknologi dan startup.

"Program ini telah dirancang agar sesuai dengan ketentuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sehingga memudahkan kami (pihak kampus) untuk melakukan konversi SKS sesuai panduan Merdeka Belajar Kampus Merdeka," katanya.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Fahmi, mengaku antusias dengan program Startup Merdeka ini. "Kami ingin semakin banyak mahasiswa yang berani untuk mewujudkan idenya menjadi startup," ujarnya.

(wip/mud)