Ribuan Guru-Murid Positif COVID Selama PTM, Begini Respons Ridwan Kamil

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 18:01 WIB
Kegiatan pembelajaran tatap muka di SDN Malaka Jaya 07 Jaktim
Iluastrasi (Foto: Firda Cynthia Anggrainy Al Djokya/detikcom)
Bandung -

149 klaster COVID-19 sekolah ditemukan selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Jawa Barat. Berdasarkan laporan yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) hingga 23 September 2021 pukul 16.00 WIB, sebanyak 1.152 PTK dan 2.478 peserta didik yang positif COVID-19.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, jika ada kasus positif COVID-19 di sebuah sekolah, otomatis prosedurnya PTM di sekolah tersebut dihentikan terlebih dulu. Kemudian tim satgas setempat akan melakukan penelusuran kontak erat.

"Tadikan SOP-nya jelas, kalau ada klaster di sekolah saya sudah perintahkan dihentikan, diteliti, di-tracingkan itu kan udah prosedur, jangan sampai anak dikorbankan. Tapi kalau enggak dibuka PTM, jumlah sekolah banyak sekali kita kan sudah tidak buka setengah tahun, mudorotnya kan juga banyak sekali ya, jadi kita situasional," ujar Ridwan Kamil di Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Kamis (23/9/2021).

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu mengatakan, jumlah klaster yang ditemukan presentasenya sangat kecil dibandingkan dengan jumlah sekolah yang dibuka di Jabar yang mencapai belasan hingga puluhan ribu.

"Sehingga SOP-nya tolong dilaksanakan dan sudah saya perintahkan hentikan PTM, cek semua guru sekolah, lingkungannya sampai terlacak semuanya dengan sistem tracing," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Disdik Jabar) Dedi Supandi mengungkapkan ada empat fenomena negatif bagi anak yang ditemukan selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaksanakan.

Dedi mengatakan, empat fenomena negatif itu yakni anak yang dipekerjakan oleh orang tua atau pekerjanya. Kemudian, pihaknya juga mendapatkan laporan terkait kekerasan anak di rumah.

Dedi tak menapik, ada juga fenomena pernikahan dini bagi anak-anak karena pandemi COVID-19 ini. Yang terakhir, adanya kasus anak yang putus sekolah atau tak bisa mengakses pendidikan karena sinyal internet yang terbatas.

(yum/mud)