Harga Telur di Majalengka Anjlok, Peternak Terpaksa Nombok

Bima Bagaskara - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 12:15 WIB
Harga telur anjlok, peternak ayam di Majalengka nombok
Harga telur anjlok, peternak ayam di Majalengka nombok (Foto: Bima Bagaskara)
Majalengka -

Harga telur di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat anjlok dan membuat para peternak ayam petelur mengalami kerugian. Kondisi itu diperparah dengan makin mahalnya pakan harga ayam.

Salah satu peternak yang mengalami kerugian akibat anjloknya harga telur ialah Asep Hamdan. Peternak ayam petelur di Desa Kulur, Kecamatan Majalengka ini mengaku harus 'nombok' demi melanjutkan usaha ternak ayam yang baru dirintisnya itu.

"Nombok kang, mau gimana lagi. Sudah dari bulan kemarin harga telur tiap harinya turun terus," ucap Asep saat ditemui detikcom di kandang ayam petelur miliknya.

Asep menjelaskan, saat ini untuk satu kilogram telur yang Ia jual ke distributor hanya di kisaran Rp 16.500. Padahal normalnya kata Asep, satu kilogram itu minimalnya dijual seharga Rp 21.000.

Dibalik anjloknya harga telur, Asep menerangkan harga pakan ayam justru mengalami kenaikan. Mulai dari harga jagung giling maupun pakan jadi terus merangkak naik.

Dalam sehari, Asep yang memiliki 500 ekor ayam petelur harus menghabiskan 50 kilogram pakan. Sementara saat ini Ia baru bisa menjual sekitar 15 kilogram telur dengan harga yang jauh di bawah normal.

"Sekarang harga itu kisaran Rp 16.500 satu kilonya. Untuk harga pakan jadi satu karung 50 kilogram itu harga Rp 325.000. Jadi kalau dihitung ya gak masuk, sehari jual 15 kilo itu Rp 247.500, tapi pakannya habis satu karung," keluhnya.

"Jadi jelas nombok buat biaya pakan ini. Sehari ruginya bisa hampir Rp 80 ribu, kalau dikali sebulan sudah berapa itu, Rp 2 juta lebih," sambungnya.

Untuk menutup kurangnya biaya pakan, Asep terpaksa harus menggunakan uang tabungan pribadinya. Namun Ia khawatir jika harga telur dan pakan ayam tak kunjung normal, usaha ternak ayam miliknya bisa gulung tikar alias bangkrut.

"Masih ada tabungan buat nutup kerugian, tapi itu paling maksimal cuma sampai bulan depan. Setelah itu kalau kondisinya masih begini takut gak kuat (bangkrut)," ungkap Asep.

Masih kata Asep, anjloknya harga telur ini menurutnya disebabkan karena banyaknya bantuan sembako berisi telur yang dibagikan kepada masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19.

Sehingga kondisi itu membuat daya beli telur mengalami penurunan sementara stok telur dari peternak melimpah.

"Sebabnya menurut saya biasanya terlalu banyak stok, dampak bantuan juga bisa jadi karena tiap warga itu kan nerima bantuan telur, jadi stok telur di masyarakat sudah ada," ujarnya.

Ia pun kini hanya bisa berharap pemerintah bisa memberikan solusi untuk kembali menormalkan harga jual telur termasuk menurunkan harga pakan ayam.

Simak juga 'Harga Pakan Melejit, Peternak Ayam Petelur di Parepare Menjerit':

[Gambas:Video 20detik]



(mud/mud)