Jalan Cadas Pangeran Punya Jurang 800 MDPL, Begini Kata Pakar Geografi

Nur Azis - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 10:20 WIB
Potret Jalan Cadas Pangeran yang punya jurang 800 MDPL
Potret Jalan Cadas Pangeran yang punya jurang 800 MDPL (Foto: Nur Azis)
Sumedang -

Jalan Cadas Pangeran Sumedang menjadi salah satu jalan populer di Jawa Barat lantaran memiliki tebing tinggi berbatu dan jurang yang dalam. Namun bagaimanakah menurut kajian geografi dan geologi terkait bentukan alam di Cadas Pangeran.

Pakar Geografi T. Bachtiar menjelaskan bahwa Cadas Pangeran merupakan hasil dari letusan gunungapi pada masa lalu. Secara umum, hal itu dapat terlihat jelas dari batuan yang ada di Cadas Pangeran.

"Cadas Pangeran itu merupakan fosil gunungapi. Gunungapi yang pernah meletus pada masa lalu," ungkap T. Bachtiar kepada detikcom, Senin (20/9/2021).

Dia menyebutkan hasil dari letusan gunungapi tua itu berupa lava dan batuan beku yang sangat kuat. Dan itu, kata dia, dapat terlihat saat melintas di ruas jalan Cadas Pangeran.

"Selain lava yang kokoh, terdapat juga hasil letusan gunungapi tua lainnya yang berupa breksi dari aliran lahar," ungkap T. Bachtiar.

Dia mengatakan material letusan gunungapi yang ada di Cadas Pangeran untuk sebagiannya ada yang telah berubah menjadi tanah. Bahkan, kini telah ditumbuhi beragam tumbuhan.

"Material letusan ini sudah ada yang melapuk dan menjadi tanah, dan ditumbuhi tumbuhan di atasnya," pungkasnya.

Sumaryono, Sri Hidayati, dan Cecep Sulaeman; Gerakan Tanah di Cantillever dan Jalur Jalan Cadas Pangeran, Sumedang yang diterbitkan dalam Bulletin Vulkanologi dan Bencana Geologi, Volume 5 Nomor 3, Desember 2010 : 23-31, menyebutkan bahwa jalur Cadas pangeran merupakan kawasan perbukitan yang memiliki lereng terjal dengan kemiringan di atas 25 derajat.

Lokasi tersebut berada di kaki bukit dengan kemiringan lereng antara 25 derajat - 40 derajat. Adapun ketinggian lerengnya antara 500 - 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Di bagian lembah kawasan tersebut mengalir Sungai Ciledug dan Sungai Cipeles. Sementara di bagian atasnya berupa hutan, ladang dan sawah
serta terdapat kolam ikan.

Secara geologi Desa Ciherang dan sekitarnya tersusun oleh produk gunung api muda tak teruraikan (Qyu), gunungapi tua (Qvb) dan gunung api tua lava (Qvl). Gunung api muda tak teruraikan yang terdiri dari pasir tufaan, lapili, breksi, lava. Sebagian aglomerat berasal dari Gunung Tangkubanparahu dan sebagian dari Gunung Tampomas. Membentuk dataran kecil atau bagian-bagian rata dan bukit-bukit rendah antara Sumedang - Bandung.

Aglomerat adalah gumpalan batuan yang terdiri atas komponen batu bersudut, batu bulat, atau kerikil yang pekat menjadi satu karena adanya bahan perekat (misalnya tanah liat). Sementara hasil dari gunungapi tua (Qvb) terdiri dari breksi gunung api aliran lahar dengan susunan komponennya antara andesit - basal.

Sementara hasil gunung api tua lava (Qvl) menunjukkan kekar lempeng
dan kekar tiang, terdiri dari batupasir tufa, konglomerat, batulempung dan batupasir gampingan dan batu gamping Formasi Kaliwungu (Pk).

Pada umumnya daerah yang mengalami gerakan tanah disusun
oleh breksi andesit dan pasir tufaan. Dalam buletin itu disebutkan bahwa berdasarkan basis data, gerakan tanah pernah terjadi di tahun 2002, 2006 dan 30 April 2009, Mei dan November 2010.

Kembali ke T. Bachtiar, ia menjelaskan bahwa gunungapi muda adalah gunungapi yang diketahui masih aktif atau jejak letusannya masih tersisa. Sementara gunungapi tua adalah gunungapi yang sudah tidak memperlihatkan sisa kawahnya tapi dapat diketahui dari hasil atau produk letusannya.

"Gunung apinya tidak diketahui. Karena saat meletus 20 juta tahun yang lalu belum ada manusia yang memberi nama," terangnya.

Lihat juga video 'Truk Pengangkut Batu Terguling-Masuk Jurang 7 Meter di Tasikmalaya':

[Gambas:Video 20detik]



(mud/mud)