Menapaki Konsistensi Bambang Samsudin, Seniman Angklung di Sumedang

Nur Azis - detikNews
Minggu, 19 Sep 2021 10:27 WIB
Bambang Samsudin tengah memainkan angklung bernada diatonis di studio miliknya
Bambang Samsudin tengah memainkan angklung bernada diatonis di studio miliknya (Foto: Nur Azis)

Bahkan, salah satu sekolah setingkat SMP di Sumedang pernah meraih juara se-Jawa Barat dalam kategori Kreativitas Terbaik saat membawakan kesenian angklung.

"Madrasah Tsanawiyah Al Furkon dengan kesenian angklungnya pernah menjadi juara kategori kreativitas terbaik se-Jawa Barat," katanya.

Dari pengalaman mengajar angklung tersebut, ia pun mulai dikenal sebagai seniman angklung di Sumedang. Sejak berhenti mengajarkan angklung ke sekolah-sekolah pada 2010, ia kini lebih konsen mengajarkan angklung kepada masyarakat secara umum di studio miliknya yang berlokasi tidak jauh dari kantor Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumedang.

Baginya, alat musik angklung memiliki filosofis tersendiri dibanding alat musik lain. Selain diperlukan kedisplinan, alat musik angklung juga mengajarkan tentang sifat gotong royong dan bekerja sama, selain alat musik tersebut merupakan alat musik warisan leluhur Indonesia.

"Saya suka bunyi bambu, bambu punya suara berbeda yang tidak bisa di tiru teknologi, angklung punya filosofis yang tidak bisa dimiliki musik lain karena angklung tidak bisa berdiri," terangnya.

Bambang yang menikah dengan Irawati (44) dan telah dikarunia empat orang anak, diantaranya Alenia Ratu Syamira (17), Beliana Fasa Syamira (15), Zanaka Bambang Wibisana (13) dan Donaminati Syamira (9), kini selain mengajar kesenian angklung juga tengah fokus sebagai aranger musik di studio miliknya. Sejak pandemi Covid-19 melanda, studio angklung miliknya pun kini menjadi sepi aktivitas.

"Sekarang angklungnya tidak bunyi-bunyi akibat pandemi Covid-19," ujar Bambang sembari tersenyum.

Sekedar diketahui, alat musik angklung yang sebelumnya memakai tangga nada slendro, pelog atau madenda, semakin kaya sejak diciptakannya sebuah angklung varian modern bernada diatonis oleh Bapak Angklung Indonesia, yakni Daeng Soetigna pada 1938 atau kini dikenal dengan Angklung Padaeng. Angklung padaeng inilah yang mampu mendobrak tradisi, sehingga alat musik tradisional Indonesia mampu memainkan musik-musik Internasional.


(mud/mud)